Home Eksekutif “Issues of Islamic Banking & Finance – Oman Experiences and Its Implication...

“Issues of Islamic Banking & Finance – Oman Experiences and Its Implication to Indonesia”

320
foto ilustrasi

Sebelum diskusi dimulai Bapak Iman Sastra sharing tentang pengalaman bekerja di salah satu perbankan Syariah di Oman, Iman Sastra bilang “begitu nyamannya bekerja disana dimulai dari waktu kerja yang hanya 8 jam sehari tanpa perlu membawa pekerjaan pulang ke rumah, kesempatan menghabiskan waktu yang cukup banyak bersama keluarga, jatah cuti yang cukup lama, gaji yang sangat layak, dll. Maka, terlakasanalah pembagian waktu 24 jam sehari yang ideal menurtu Imam Syafi’i: 1/3 untuk bekerja, 1/3 untuk ibadah, 1/3 untuk keluarga”.

Beberapa isu yang sempat hangat diperbincangkan antara lain:

  1. Industri perbankan syariah yang baru muncul namun mampu berkembang sangat baik seperti di Oman
  2. Pentingnya peran Central Shariah Board bagi perbankan syariah di beberapa negara
  3. Governance Standard yang akan dirilis oleh Accounting Auding Organization for Islamic Finance Institutions (AAOIFI) pada tahun depan

“Dibandingkan dengan Indonesia yang telah berdiri sejak 25 tahun lalu dengan market share yang tak jauh dari angka 5%, Oman dapat dikatakan ‘bayi akselerasi’ dalam industri ini. Oman baru berdiri pada awal tahun 2013, namun hanya dalam waktu kurang dari 5 tahun tsb dan tanpa adanya perpindahan bank konvensional ke bank syariah, market share perbankan syariah bisa mencapai 12% padahal Bank Sentral Oman menargetkan market share 10% pada tahun 2020”ujar Iman Sastra.

Iman Sastra memaparkan rahasia Perkembangan pesat ini  Industri keuangan di Oman disebabkan beberapa hal, antara lain:

  1. Persiapan yang matang dengan modal semangat untuk terus belajar.

Berada di kawasan Timur Tengah yang mayoritas telah lebih dulu mengembangkan perbankan syariah. “Oman tidak melewatkan kesempatan emas tsb untuk belajar banyak dari negara-negara tetangga. Mereka tidak ragu untuk merekrut ahli-ahli dan profesional yang telah memiliki pengalaman minimal 5 tahun dan telah memiliki kualifikasi PhD/Professor untuk berbagi pengalaman dan merancang sound regulatory system. Perekrutan dilakukan dengan sangat objektif, memperhitungkan dengan cermat kapasitas seseorang tanpa melihat background/siapa yang ‘membawa’ orang tsb” Imbuh Iman Sastra.

Sementara itu dalam mengadopsi kemajuan Malaysia dan kawasan Timur Tengah lainnya , “Oman menjadi pembelajar yang cerdas dengan mengambil hal-hal yang baik seperti Oman yang tidak mengambil bai’ al-ina yang kontroversional di Timur Tengah ataupun tawarruq di Malaysia yang banyak dikritik dalam dunia perbankan”ujar Iman Sastra.

  1. Pentingnya sense of competitiveness.

“Sebagai seorang pembelajar, kompetisi dan kompetitor memiliki peran yang penting dalam proses pembelajaran dan penyemangat untuk menjadi yang lebih baik. Mengambil contoh Malaysia, mereka dapat maju seperti saat ini karena terus merasa bersaing dengan Singapura. Begitu juga dengan perbankan syariah di Oman, mereka terus meningkatkan kapasitas diri dengan didorong semangat untuk terus berkompetisi dengan Emirates” bilang Iman Sastra.

Terkait Shariah Governance dalam perbankan syariah, “di tingkat nasional Oman memiliki Dewan Pengawas Syariah Tertinggi – High Syariah Service Authority yang  berwenang mengeluarkan fatwa jika terjadi perselisihan pendapat antar bank syariah. Lalu kemudian di tingkat institusi, perbankan syariah di Oman memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang berkedudukan sejajar dengan Dewan Komisaris, untuk menjaga independensi dan meningkatkan bargaining power ketika DPS mengambil keputusan yang mungkin tidak sejalan dengan Dewan Direksi. Di bawah pengawasan DPS dibentuk Internal Shariah Review Division. Untuk full-fledged bank syariah, kepala divisi ini berkedudukan sejajar dengan Dewan Direksi, sedangkan non full-fledged berada di bawah Dewan Direksi. Yang boleh melakukan audit atas divisi ini hanya auditor eksternal yang memiliki pemahaman terkait Syariah, sedangkan pihak auditor internal tidak memiliki wewenang.  Ada 4 Unit yang berada dalam Internal Shariah Review Division yaitu Shariah Compliance Unit, Shariah Risk Unit, Shariah Audit Unit, Shariah Research Unit” bilang Iman Sastra.

Iman Sastra menambahkan “Shariah Research Unit dalam perbankan syariah di Oman memiliki peran penting untuk menjadi penggerak inovasi dalam industri ini. Begitu juga yang diharapkan dapat menjadi sumbangsih pihak akademisi. Untuk itu, akademisi harus membangun kerjasama yang lebih dengan industri, agar penelitian yang dilakukan dapat benar-benar diterapkan dalam praktek aktual perbankan syariah”.

Governance Standard yang akan dirilis AAOIFI pada tahun depan sedang dalam proses review oleh industri, mencakup beberapa hal yaitu:

  1. Central Shariah Board
  2. Revisi atas kebijakan Pembayaran Bertahap
  3. Implementasi IFRS 9 terkait Solely Payment Plus Interest

Moral of Story

“Dengan berbagai pengalaman Oman dalam membangun industri keuangan Syariahnya, harapannya Indonesia dapat belajar dari berbagai negara yang berhasil mengembangkan keuangan Syariah, termasuk Oman yang berhasil membangun dalam waktu singkat karena dukungan penuh dari pemerintahnya dan berbagai stakeholdersnya. Dengan hadirnya Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang diketuai langsung oleh Presiden Jokowi, Badan Penyelenggara Keuangan Haji (BPKH) dan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) harapannya bisa menjadi momentum bagi Indonesia menuju sebagai pusat industri keuangan Syariah Dunia” ujar Safri Haliding Ketua Umum MGI-Islamic Finance Forum (MIFF).

“Oleh karena itu, sangat diharapkan KNKS dapat segera beroperasi dengan membentuk pelaksana teknis (Direktur Pelaksana) KNSK sehingga dapat melakukan berbagai terobosan dengan membuat program strategis yang dapat mendorong pertumbuhan dan perkembangan Industri Keuangan Syariah tanah air” tambah Safri Haliding.

Profil Mata Garuda Institute Islamic Finance Forum (MIFF)

MIFF adalah lembaga kajian dan think tank yang dibentuk oleh para alumni dan awardee penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang mengambil jurusan Islamic Finance & Banking and related studies baik yang sekolah di dalam negeri maupun di luar negeri, umumnya alumni S2 dan S3 dari International Islamic University of Malaysia (IIUM) dan Durham University, UK.

MIFF sebagai wadah untuk menampung aspirasi, saran, dan rekomendasi para awardee & alumni LPDP yang mengambil kekhususan Ekonomi Islam untuk disalurkan/diberikan kepada semua stakeholders Islamic Finance Industry, sekaligus sebagai bagian dari kontribusi awardee dan alumni LPDP kepada pengembangan Islamic Finance Industry di tanah air.

Ketua Umum MIFF

Safri Haliding, M.Sc

MSc Holder in Accounting, Finance & Banking (Islamic)

International Islamic University of Malaysia (IIUM)

082194131919

image_pdfimage_print

Komentar

Komentar