Home Breaking News Ini Perbedaan Kandungan Beras Ketika Dimasak Jadi Nasi

Ini Perbedaan Kandungan Beras Ketika Dimasak Jadi Nasi

167
Menu Nasi Goreng Merah Putih yang menjadi menu unggilan The Hive dalam rangka menyambut HUT RI ke-71. (Foto: Isra)

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Beras merupakan makanan pokok rutin tiga kali sehari bagi rakyat Indonesia, sejak doeloe kala. Tapi kita sulit membedakan jenis-jenis beras beredar di pasaran karena banyaknya jenisnya.

“Biasanya pembeli itu taunya hanya jenis Beras Medium dan Premium, tapi kalau dilihat dari kedua jenis tersebut masih banyak jenis lainnya,” ungkap Joko, pedagang beras di Pasar Cibubur, Jakarta timur, kepada citraindonesia.com, Selasa (21/11/2017).

Dirinya mengurai bahwa kalau terlihat sekilas jenis beras memang sama saja, mungkin yang gampang membedakan itu dari bentuk dan wanginya saja, padahal masih banyak perbedaan dan jenis kandungan terdapat dalam beras tersebut.

1. Pandan Wangi : mempunyai ciri khas di aromanya yang berbau wangi daun pandan dan bentuk dari beras pandan wangi itu tidak panjang tapi berbentuk bulat. Jika terdapat beras dengan biji yang panjang tetapi hampir wangi maka dapat dipastikan beras tersebut dicampur zat pewangi berbahan kimia. Selain itu juga warna beras pandan wangi sedikit kekuningan dan bening. Saat dimasak dan setelah jadi nasi, aromanya tidak pudar dan nasi pulen.

2. IR 64 (Sentra Ramos) : Beras jenis ini sangat banyak di minati masyarakat di diwilayah perkotaan. Karena harganya yang cukup terjangkau. Normalnya jenis beras tersebut adalah pulen jika dimasak menjadi nasi. Namun jika telah berumur terlalu lama atau lebih dari tiga bulan, maka beras ini dapat berubah menjadi sedikit Pera (kandungan indeks glikemik atau GI atau kandungan gula lebih rendah dibandingkan beras pulen). Dan nasinya mudah basi ketika dimasak. Beras tersebut mempunyai ciri-ciri agak panjang atau lonjong tidak bulat.

3. Rojolele : Mempunyai jenis yang cenderung lebih bulat. Memiliki sedikit bagian yang berwarna putih susu dan tidak wangi seperti beras pandan wangi. Nama Rojolele diambil dari sebutan daerah di Jawa Tengah atau jawa Timur dan sering disebut beras Muncul.

4. IR 42 : Beras ini berbentuk bulat dan mirip dengan IR 64. Namun ukurannya lebih kecil dan beras ini jika dimasaj nasinya tidak pulen atau cenderung Pera sehingga sangat cocok untuk keperluan nasi goreng, nasi udung dan ketupat. Harganyapun relatif lebih mahal dibandingkan IR 64 yang disebabkan oleh jenis beras tersebut jarang ditanam oleh petani.

5. Beras c4 : Bentuknya mirip seperti beras IR42 namun cenderung lebih bulat dan beras jenis tersebut masih jarang ditemui dipasaran karena jarang ditanam oleh petani namun nasinya lebih pulen dibandingkan IR64.

Menurut informasi, Badan Standarisasi Nasional (BSN) beras terbagi atas 4 klasifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI mutu beras yaitu Premium, medium I medium II dan medium III). Adapula syarat pada beras yaitu bebas hama dan penyakit, bebas bau apek, asam atau bau asing lainnya, bebas dari campuran dedak dan bekatul serta bebas dari bahan kimia yang dapat membahayakan konsumen.

Untuk beras jenis Premium, syarat khusus beras yaitu derajat sosoh mencapai 100 persen. Derajat sosoh merupakan tingkat terlepasnya aleuron (kulit ari) yang melapisi biji beras. Adapula tingkat kadar air maksimal 14 persen dan kadar air tersebut ditentukan dari jumlah kandungan air didalam butiran beras.

Untuk kategori Medium I memiliki derajat sosoh minimum 95 persen, medium II 90 persen, medium III 80 persen dengan batas maksimum kadar air 14 sampai 15 persen. Untuk beras medium memiliki butir patah atau beras pecah maksimal 20 persen untuk medium I, medium II maksimal 25 persen dan medium III maksmal 35 persen.

Kategori tersebut diukur menggunakan alat-alat khusus untuk membedakan beras medium dan premium.

“kalau beras premium dari sisi kecerahan lebih terang, medium agak buram tidak putih bersih dan beras pecahnya juga kalau untuk jenis premium itu sangat sedikit,” terangnya.

Selain itu juga dapat dibedakan dari tingkat kotorannya seperti gabah, batu sampai kulit ari yang terbawa kedalam beras dan kalau untuk jenis medium sangat mudah ditemukan kotoran yang terbawa kedalam berasnya.

“Makanya kalau jenis beras medium sering ditemukan gabah dan batu. Namun kalau di jenis beras premium tidak ada sama sekali,” tutup Joko. (Ning)

image_pdfimage_print

Komentar

Komentar