Home Breaking News Ini Kata Chef William Wongso Tentang Keajaiban Kuliner Indonesia

Ini Kata Chef William Wongso Tentang Keajaiban Kuliner Indonesia

146
Chef William Wongso

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Chef William Wongso yang memiliki buku ‘Flavour of Indonesia’fd’ yang dinobatkan sebagai buku terbaik tahun ini di 2013 Gourmand World Cookbook Awards ini menyampaikan pengalamannya tentang keajaiban kuliner Indonesia.

Dikutip citraindonesia.com dari scmp.com, Sabtu (19/8/2017), warga asli Indonesia ini bercerita tentang awal mula dirinya fokus pada masakan hingga keajaiban kuliner Indonesia.

“Setelah 20 tahun bepergian, belajar masakan Jepang, Cina, Prancis dan Italia, saya sadar saya orang Indonesia dan harus belajar lebih banyak tentang masakan Indonesia. Saya pergi ke desa untuk melihat bagaimana mereka memasak tapi yang terpenting, secukupnya; Mereka tidak pernah memasak menggunakan resep, tapi karena selera Anda bisa memperkirakan (hasilnya). Kemudian saya berlatih mereplikasi piring dengan menggunakan peralatan memasak Barat. Saya selalu menyarankan generasi muda bahwa jika mereka ingin belajar memasak, mereka harus meluangkan waktu mencicipi. Hari-hari ini, semua orang bisa google, tapi Anda tidak bisa mencicipi google – mereka harus mengalaminya sendiri, dan itu butuh uang, jelasnya.

William Wongso menyampaikan tentang gagaimana dirinya menggambarkan makanan Indonesia.

“Masakan Indonesia memiliki begitu banyak varietas daerah, tergantung geografi, budaya, kepercayaan, agama, ekonomi dan pengaruhnya 100 tahun yang lalu dari pengunjung dan migran dari berbagai negara. Budaya kita begitu dalam dan beragam – ini masih menjadi misteri bagi banyak orang karena Anda harus pergi ke banyak tempat untuk belajar tentang makanan kita. Di daerah terpencil, mereka memasukkan bahan ke dalam bambu dan masak perlahan. Kami menggunakan campuran rempah-rempah, seperti rempah-rempah aromatik, cabai dan lengkuas. Ada persepsi yang salah bahwa semua makanan Indonesia pedas. Dengan beberapa makanan daerah, juru masak menambahkan banyak cabai ke makanan mereka, tapi di Jawa, misalnya, sebagian besar makanan disajikan dengan saus sambal atau cabai di sampingnya. Orang Indonesia juga suka makan dengan suara. Bubur saja tidak cukup – mereka butuh kerupuk atau kacang,” tuturnya.

Dia pun sempat menjelaskan tentang bukunya ‘Flavors of Indonesian’: Keajaiban Kuliner William Wongso?

“Saya menyukai fotografi. Saya telah mendokumentasikan pasar tradisional di mana pun saya bepergian selama lebih dari 35 tahun. Saya percaya pasar tradisional adalah jantung dari orang-orang yang tinggal di sekitar mereka. Saya bisa memprediksi budaya, kecanggihan dan ekonomi tempat (dari pasarnya]). Butuh waktu enam tahun untuk menyelesaikan buku (yang diterbitkan tahun lalu),” ungkapnya.

Wiliam menyampaikan tantang pengalaman yang dihadapinya saat memasak masakan Indonesia di luar negeri.

“Banyak yang harus kita lakukan untuk mempromosikan masakan kita. Ketika diplomat (Indonesia]) dikirim ke luar negeri, saya membantu mereka menemukan juru masak untuk pergi bersama mereka. Saya memberi panduan kepada para juru masak tentang bagaimana bekerja dengan rempah-rempah, karena tidak setiap negara tempat mereka diberi rempah-rempah yang tersedia,” imbuhnya.

Lanjutnya, “Bagian tersulit adalah bagaimana memasak bahasa Indonesia dengan cara yang paling konsisten. Untuk membuat campuran bumbu yang tepat Anda memerlukan bahan yang tepat dan waktunya – Anda tidak bisa melakukan bumbu instan. Kita perlu belajar dari negara-negara seperti Thailand – bagaimana mereka mengekspor pasta kari merah dan hijau, dan kecap ikan. Saat saya mendemonstrasikan masakan Indonesia, saya memasak kari daging sapi karamel Sumatera Barat, atau rendang padang. Saya memasak segala jenis daging merah dengan rendang bumbu. Ia bekerja dengan segala jenis permainan, bahkan dari Afrika,” ujarnya.

Saat ini Chef William Wongso tidak lagi akhif bekerja di dunia kuliner, mengingat usianya yang ke-70 tahun. Namun, meskipun demikian, dirinya mengaku seskali masih berpetualangan untuk merasakan lebih banyak lagi kuliner, khususnya masakan tanah air.

“Saya 70 sekarang tapi saya tidak pernah berhenti bepergian. Sejauh ini, saya hanya menghabiskan 40 persen waktu saya di Jakarta. Saya berkonsultasi dan mengerjakan proyek. Saya memiliki begitu banyak kesempatan di mana orang menunjukkan hal-hal yang berhubungan dengan makanan. Saya makan secukupnya, tidak peduli seberapa bagus makanannya. Saat bepergian, saya suka mencoba daging sapi lokal yang dimasak sebagai steak. Ke mana pun saya pergi, saya suka mencoba makanan lokal,” tutupnya. (pemi)

Komentar

Komentar