Weather United States Of America, Ashburn United States Of America, Ashburn -2°C

Citra Indonesia

Ini Buah Pikiran Perwira TNI Brilliant

Ini Buah Pikiran Perwira TNI Brilliant

May 15
18:28 2012
Mayor CPM Anggiat Napitupulu SH

Mayor CPM Anggiat Napitupulu SH

CitraIndonesia.Com: Ini dia buah pikiran perwira muda TNI Mayor CPM, Anggiat Napitupulu SH.  Sekalipun muda, tapi ia brilliant (jenius lo). Berani mengungkapkan idealismenya dalam sebuah tulisan.

Judul tulisannya: PERSPEKTIF KADERAISASI: MENEMPA PEMIMPIN NASIONAL BERWAWASAN KEBANGSAAN. Sebuah sumbangan pikiran bagi bangsaku…

Pemimpin Tangguh Untuk Indonesia:

Perjalanan kehidupan bangsa Indonesia di tengah-tengah bangsa-bangsa di dunia tidak akan terlepas dari berbagai pengaruh lingkungan. Berbagai kepentingan antar bangsa dengan berbagai macam bentuknya membawa seluruh masyarakat dunia ke dalam konflik multi dimensi. Perkembangan global maupun regional seperti di atas sangat dominan terhadap arus pengaruh yang masuk ke Indonesia yang terus menerus mendesak perubahan-perubahan di lingkungan masyarakat. Persoalan penting yang kita hada[pi yaitu kebutuhan di masa depan menuntut kehadiran pemimpin nasional berwawasan kebangsaan. Kepemimpinan yang diharapkan guna menjawab tantangan-tantangan di masa depan yaitu kepemimpinan dengan visi dan misi yang jelas, tangguh serta berwawasan kebangsaan.

Geopolitik dan Geostrategi:

Kondisi geopolitik dan geostrategi di Asia Tenggara mengalami perubahan besar sejak krisis ekonomi di Asia pada tahun 1997. Krisis ini membawa dampak besar dalam stabilitas politik regional Asia Tenggara yang kemudian harus berhadapan dengan intervensi asing dalam berbagai bentuk, yang salah satunya yaitu bantuan keuangan melalui IMF (International Monetary Fund) (jurnalphobia-fisipo8, 2011:-). Bentuk intervensi asing yang lain adalah ekspansi ekonomi di mana Eropa dan Amerika memanfatkan masyarakat Asia Tenggara sebagai pangsa pasar yang sangat potensial, khususnya dalam hal perdagangan dan ekspor berbagai komoditi.Indonesia sebagai salah satu bagian masyarakat di wilayah regional Asia Tenggara juga mengalami efek dari kebijakan negara-negara asing sehingga perlu pemantapan geopolitik dan geostrategi sebagai jalan tengah yang dapat dimanfaatkan untuk kelangsungan hidup bangsa Indonesia.

Negara Indonesia yang terdiri dari sekitar 13.670 pulau diikat oleh laut dan selat, memiliki geopolitik yang dituangkan dalam suatu Doktrin nasional yang disebut Wawasan nusantara. Geostrategi Indonesia diwujudkan melalui konsep Ketahanan Nasional yang meliputi bidang ketahanan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan.Geostrategi dan Geopolitik ini lah yang menegaskan posisi Indonesia sebagai Negara yang berdaulat sekaligus sebagai warga masyarakat regional dan dunia.

Untuk mengantisipasi tantangan di masa depan kita perlu pemimpin tangguh yang memiliki perspektif pemikiran yang matang dan visioner. Pemimpin yang dibutuhkan adalah pemimpin yang mampu melihat jauh ke depan sehingga dapat merumuskan langkah-langkah nyata guna menghadapi masalah eksternal dan internal. Substansi masalah eksternal yaitu diplomasi politik, pemerintahan dan ekonomi. Di dalam setiap diplomasi sudah barang tentu diiringi dengan berbagai macam prasyarat dan tarik-menarik antar kepentingan, yang pada kenyataannya Indonesia selalu menerima dan menyetujui kerja sama yang berat sebelah, yang cenderung merugikan negara kita. Di sisi lain pemimpin juga harus peka terhadap masalah internal sehinggamampu melahirkan solusi-solusi mengatasi kesulitan rakyat. Kebijakan dalam negeri yang diharapkan adalah kebijakan yang pro rakyat, dengan pembatasan regulasi yang membela kepentingan ekonomi rakyat sehari-hari. Dari masalah-masalah eksternal dan internal tersebut di atas maka dibutuhkan keseimbangan dalam mengambil keputusan dalam menjalankan peranpenentu kebijakan di lingkungan internasional maupun regional tetapi juga tetap memperjuangkan kebutuhan rakyat mayoritas di dalam negeri.

Teori Kemunculan Pemimpin:

Dari berbagai teori tentang munculnya pemimpin, ada suatu teori yang menonjol yaitu bahwa pemimpin timbul karena keturunan (Hereditary Theory), kejiwaan (Psychological Theory) atau lingkungan (Ecological Theory) (Judge et al, 2009:-). Secara singkat dapat diuraikan pemimpin yang timbul karena keturunan mengandung arti bahwa seseorang menjadi pemimpin karena bakat dan talenta yang dimiliki sejak dalam kandungan, karena ditakdirkan dan tidak dibentuk. Pemimpin karena kejiwaan mengandung arti bahwa seseorang bisa menjadi pemimpin dibentuk melalui proses pendidikan dan pengalaman yang cukup, bukan dari sejak lahir. Pemimpin karena lingkungan mengandung arti bahwa seseorang bisa menjadi pemimpin apabila memiliki bakat sejak lahir kemudian bakat tersebut dikembangkan melalui proses pendidikan yang teratur serta pengalaman yang cukup. Tipikal pemimpin karena lingkungan merupakan kombinasi dari tipikal pemimpin karena bakat sejak lahir dengan tipikal pemimpin karena kejiwaan, di mana lingkungan formal mau pun non formal turut berperan dalam membetuk sifat dan karakter kepemimpinan. Tipikal pemimpin yang ketiga ini lebih memungkinkan untuk ditempa menjadi handal dan tangguh sehingga dengan kekuatan karakter yang dimiliki maka seorang pemimpin dapat diandalkan.

Faktor Khusus dalam Pengambilan Keputusan:

Pemimpin yang handal akan memperhatikan faktor-faktor khusus dalam pengambilan suatu keputusan. Predikat atau pun penilaian akan keberhasilan kepemimpinan seseorang dalam periodisasi tertentu akan mempengaruhi lingkungan dalam masa tertentu pula. Nilai dari keputusan yang di ambil dalam suatu masa tidak bisa diterapkan pada masa yang lain, demikian pula nilai keputusan yang diterapkan pada suatu masa belum tentu cocok untuk diterapkan pada masa yang lain.

Faktor khusus yang harus dicermati oleh seorang pemimpin dalam pengambilan keputusan yaitu latar belakang obyek/masalah, input data, aturan/peraturan yang berlaku, analisa masalah, metode pemecahan persoalan, tuntutan lingkungan (major demand) serta faktor waktu (momentum). Secara umum pemimpin mampu melaksanakan factor-faktor khusus tersebut, akan tetapi faktor yang paling sering diabaikan yaitu faktor major demand dan faktor momentum. Di dalam lingkungan sosial masyarakat seorang pemimpin harus memperhatikan berbagai trend mutakhir yang lahir dari kebijakan-kebijakan di lingkungan dunia internasional maupun regional. Cara pandang pemimpin yang mengabaikan trend mutakhir internasional akan mengemban konsekwensi negatif baik berupa sanksi sosial, sanksi ekonomi, sanksi politik maupun sanksi lainnya. Berbagai trend yang berlangsung dalam lingkungan sosial merupakan kesimpulan dari keinginan jaringan system pada suatu masa tertentu.  Oleh karenanya adalah menjadi mutlak bagi seorang pemimpin di masa kini dan di masa depan bila melihat pentingnya hubungan jejaring dalam mencapai kekuasaan. Mereka harus menerapkan berbagai strategi dan menciptakan tim-tim yang bisa menangguk keuntungan dalam menjalin hubungan yang kuat maupun longgar saat umat manusia kini memiliki akses informasi yang lebih besar (Joseph Nye Jr, Project Syndicate 2008:-).

Faktor major demand yang disebut di atas adalah merupakan aspirasi dan harapan mayoritas rakyat yang muncul dari kesulitan-kesulitan rakyat menurut skala prioritas. Kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang melayani, di mana major demandmasyarakat menjadi prioritas utama yang harus diperjuangkan. Bila melihat kepada aksioma bahwa kebutuhan manusia yang paling mendasar adalah makan, maka seyogyanya seorang pemimpin meletakkan kebijakan kemantapan ketahanan pangan pada prioritas pertama dan utama. Di sisi lain pemimpin juga harus memahami bahwa apabila terjadi penerapan kebijakan yang cenderung bias atau bertentangan dengan major demand maka akan mengemban konsekwensi berupa potensi-potensi konflik. Lebih jauh lagi apabila konflik ini menjadiberkepanjangan maka dapat menjadi lahan yang subur untuk dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain yang berkepentingan, yang sangat potensil berkembang ke arah pemberontakan yang berefek fatal. Di dalam perkembangan sosial masyarakat yang dinamis major demand di berbagai Negara tentu akan berbeda-beda. Sebagai gambaran dapat kita sebutkan contoh major demand di lingkungan masyarakat Eropa seperti hasil klasifikasi kebutuhan kerja atau interest lapangan pekerjaan dengan gaji awal (basic salary) pada tahun 2011 yaitu bidang Petroleum Engineering  $86,220, Chemical Engineering  $65,142, Mining & Mineral Engineering $64,552, Computer Science  $61,205, Computer Engineering  $60,879, Electrical/Electronics & Communications Engineering $59,074, Mechanical Engineering $58,392, Industrial/Manufacturing Engineering $57,734, Aerospace/Aeronautical/ Astronautical Engineering $57,231, serta Information Sciences & Systems $54,038 (Darwin, 2010:-). Pemimpin di Negara mana pun harus mampu dan jeli mencermati major demand yang sedang berlangsung seperti ini.

Tersebut lah beberapa dimensi menurut Sun Tsu seperti air, angin, matahari, bumi yang harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan (Sun Tzu: The Art of War,-). Ternyata ada satu dimensi yang sering tertinggalkan yaitu dimensi waktu atau faktor momentum. Pemimpin yang cermat akan mengambil keputusan tepat meskipun pada saat yang sulit. Pada saat seorang pemimpin diminta untuk memutuskan sesuatu dengan cepat, ia bisa memutuskan untuk menundanya. Jadi jelas lah bahwa ternyata penundaan adalah juga merupakan suatu keputusan. Betapa pun seluruh faktor sudah mendukung untuk pengambilan sebuah keputusan tetapi faktor momentum tidak kalah pentingnya untuk dicermati. Untuk dapat memanfaatkan factor momentum dalam ruang waktu yang sempit maka kejelian seorang pemimpin menjadi sangat dibutuhkan. Bila dilihat dari sifatnya momentum selalu hampir tidak terlihat. Momentum merupakan salah satu sub dari substansi waktu dengan range yang sangat sempit. Oleh karena itu faktor ketelitian sangat lah diperlukan untuk melihat dan memanfaatkannya, tentunya dengan didukung oleh keberanian dan ketangguhan mental. Pada saat kesempatan emas datang, sekalipun irrasional, pemimpin yang tangguh harus segera meraih momentum tersebut dengan melahirkan keputusan terbaik.

Pemimpin Pancasilais dan Berwawasan Kebangsaan:

Masa depan Indonesia membutuhkan pemimpin-pemimpin nasional yang Pancasilais dengan kemapanan ideologi dan wawasan kebangsaan. Nasionalisme yang kokoh diilhami olehkemurnian jiwa nenek moyang kita adalah merupakan jiwa Pancasila yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia. Pemimpin nasional harus menyadari sepenuhnya bahwa di samping sebagai dasar negara, Pancasila juga berfungsi sebagai alat pemersatu bangsa yang menjadi koridor terhadap ruang gerak kebebasan tiap individu, sehingga kebebasan tidak boleh diberlakukan tanpa batas. Dengan demikian pemimpin masa depan harus memiliki idealisme kuat terhadap Pancasila, memahami dan mentaati norma-norma dasar pegangan bangsa indonesia serta memahami Wawasan Kebangsaan secara mendalam.

Peran serta bangsa Indonesia di tengah-tengah warga dunia akan sangat bergantung kepada kebijakan pemimpin negara. Untuk itu kepemimpinan nasional harus mampu mendukung harkat dan martabat bangsa setiap saat di tengah-tengah komunitas regional dan internasional, guna mewujudkan kesetaraan posisi antar bangsa (equality of nations) dengan mengoptimalkan diplomasi yang saling memahami secara mendalam (comprehensive understanding) mau pun dengan memanfaatkan berbagai potensi untuk memungkinkan kita memiliki kekuatan tawar (bargaining power). Tentu banyak hambatan yang akan muncul dalam pelaksanaannya, oleh karena itu dibutuhkan karakter kuat kepemimpinan yang siap menempuh resiko, kepemimpinan yang lebih pro kepada rakyat.

Kebutuhan bangsa Indonesia di masa depan menuntut profil-profil pemimpin nasional yang tangguh dan berwawasan kebangsaan, yang memiliki 4 kompetensi penting yaitu kompetensi teknis, kompetensi manajerial, kompetensi sosial dan kompetensi intelektual (Stephen Wagner, 2010:-). Profil pemimpin nasional seperti ini lah yang harus dipersiapkan guna menjawab tantangan di masa depan. Kita perlu menyadari bahwa sejak masa sebelum Kemerdekaan RI, masa Orde Lama, masa Orde Baru, masa Reformasi, hingga sekarang, di alam negara kesatuan ini tidak pernah sepi dari konflik. Dengan kalimat lain dapat dikatakakan bahwa di dalam perjalanan kehidupan bangsa Indonesia, konflik bersifat kekal. Konflik akan selalu muncul silih berganti sebagai efek dari perbedaan pendapat di tengah-tengah komposisi penduduk yang sangat bervariasi baik dari segi suku, agama, ras dan antar golongan, ditambah dengan perbedaan-perbedaan di level elit politik dan pemerintahan. Kondisi sosial Bangsa Indonesia penuh dengan keragaman harus tetap diikat dengan penegakan hukum yang proporsional, sehingga keamanan dan kenyamanan di bumi Indonesia tetap merupakan jaminan yang dapat diberikan oleh sesanti Bhinneka Tunggal Ika.

Selalu ada korban dalam setiap pengambilan keputusan. Setiap pemimpin harus memaklumi situasi dinamis bahwa keputusan yang diambil oleh pemimpin tidak setiap saat dapat memuaskan kehendak berbagai elemen masyarakat. Korban yang dimaksud di sini bisa berupa tetap berlangsungnya kondisi yang bergejolak, situasi kritis di daerah tertentu atau pun korban perasaan dari segelintir orang yang tidak puas. Kemunculan efek seperti ini tidak boleh menjadi suatu penyesalan dalam diri seorang pemimpin. Tidak semua substansi akan dapat di-make up dengan sempurna secara bersamaan (misal: substansi ekonomi, sosial, teknologi, pertanian, pertahanan, ideologi, politik, budaya, dll). Berbagai substansi harus dikelola dengan pemilihan tepat menurut skala prioritas, substansi mana yang lebih demanded bagi rakyat saat ini. Ada substansi yang dibangun maju, pasti ada pula substansi yang akan tertinggal. Pemimpin yang tangguh tidak akan pernah ragu bila menuai kritik dari segelintir orang saja. Kita bisa belajar dari sejarah bahwa pada jamannya, Bung Karno memajukan substansi politik luar negeri dan Ideologi Pancasila, sementara substansi ekonomi tertinggal jauh. Pada jaman yang lain Pak Harto memajukan  substansi pertanian dan pembangunan, sementara teknologi dan demokrasi tertinggal jauh. Ada yang diraih, ada yang tertinggal.

Arah Strategi:

Setiap komponen bangsa senantiasa berupaya mengkader para pemuda untuk alih generasi kepemimpinan dalam organisasinya masing-masing. Bahkan ada beberapa instansi seperti Seskoad, Seskoal, Seskoau, Sespimmen Polri, Diklklatpim Kemenlu, Diklatpim Kemensos, dan lain sebagainya. Kesemuanya itu hanya merupakan penyiapan pimpinan dalam bidang profesinya saja. Demikian pula halnya dengan pendidikan Lemhanas yang merupakan kelembagaan yang mensinergikan peran berbagai komponen bangsa untuk kepentingan pertahanan. Hingga saat ini belum ada wadah kelembagaan untuk penyiapan kader pemimpin nasional yang mengakomodir sumber daya manusia unggulan dari tiap-tiap komponen bangsa.

Strategi untuk menyiapkan kader pemimpin nasional yaitu dengan membentuk Sekolah Pemimpin Nasional (Sepimnas) Indonesia. Sepimnas ini akan menempa kader pemimpin nasional berwawasan kebangsaan, dengan materi pendidikan terarah dan rekrutmen yang efektif. Kelembagaan sekolah ini bisa di bawah supervisi Kementerian Dalam Negeri, sehingga merupakan kelembagaan resmi milik pemerintah. Adapun materi pendidikan yang diterapkan adalah tentang kepemimpinan, wawasan kebangsaan, wawasan nusantara, konflik internal, konflik regional, dan sebagainya. Rekrutmen dapat diselenggarakan dengan 2 arah, yaitu pengusulan dan pencarian. Pengusulan nama calon dilaksanakan melalui penyampaian daftar nama oleh instansi TNI, Polri, Parpol, Ormas, dan lain-lain. Sedangkan pencarian bibit unggul pemuda-pemudi non organisasi/instansi dilaksanakan oleh Kelembagaan Sepimnas dengan mengakomodir bibit-bibit unggul yang menonjol, dengan disertai pemberian fasilitas beasiswa darilembaga. Alumni Sekolah ini diharapkan dapat menjadi kader pimpinan nasional yang mumpuni dalam keilmuan kepemimpinan universal baik dalam lingkungan sipil maupun militer. Setelah lulus dari Sepimnas para kader pemimpin nasional ini kembali ke instansi/bidang tugasnya, tapi tetap teregistrasi sebagai aset kader pemimpin nasional di masa depan.

Persyaratan dalam rekrutmen harus dapat diandalkan sebagai filter untuk memperoleh kader unggulan. Sepimnas dapat menerapkan beberapa persyaratan pokok seperti pembatasan umur antara 35 – 45 tahun, S-1, lulus psikotest dan interview. Dengan batasan usia yang masih relatif muda tetapi produktif tersebut akan memungkinkan para lulusannya berkiprah di lingkup nasional pada usia 50 -60 tahun.

Dengan adanya Sepimnas Indonesia maka kebutuhan sosok pemimpin-pemimpin nasional di masa depan akan mudah terpenuhi. Demikian pula secara kualitas kepemimpinan tersebut dapat diandalkan untuk membentuk iklim poltik, pemerintahan dan pembangunan yang lebih dinamis.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi seluruh elemen masyarakat/komponen bangsa dalam mempersiapkan kader pimpinan nasional di tiap-tiap organisasi/instansi serta dapat memperjuangkan berdirinya Kelembagaan Sekolah Pemimpin Nasional Indonesia, sehingga di masa depan kita memiliki banyak asset bernilai berupa kandidat-kandidat pemimpin nasional yang dapat diandalkan.

Jayalah Negeriku, Makmurlah bangsaku.

Hormat saya kepada Mayor Inf Priyanto yang telah memberikan masukan dan motivasi.

(Hasil buah pikir dan pandangan pribadi / Bandung, Mei 2012 / Pandu Sakti’97 /anggiat_mp@yahoo.com).

(oloan siregar) chief editor, citraindonesia21@yahoo.com

Tags
TNI
Share

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

 

Cari Konten

Sticker-olo