Home Breaking News Ini 10 Jenis Batik Terpopuler di Indonesia

Ini 10 Jenis Batik Terpopuler di Indonesia

426

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Tidak dapat dipungkiri batik kini adalah salah satu hal yang menjadi kebanggaan rakyat Indonesia. Walau tidak berbaju batik atau hanya memiliki 1 lembar batik yang diragukan asal muasalnya, apakah buatan Indonesia atau buatan Tiongkok, orang Indonesia sangat bangga jika mendengar batik disebut-sebut apalagi oleh bangsa lain. Dan cukup gerah jika mendengar negara tetangga menyebut-nyebut batik sebagai kebanggaan mereka pula.

Pada tanggal 2 Oktober 2009, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai organisasi pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan batik Indonesia pada keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan dan budaya yang terkait, sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi. Inilah yang membuat batik Indonesia tidak bisa diklaim oleh bangsa lainnya.

Pada awalnya teknik pewarnaan menggunakan malam sudah dikenal sejak abad ke-4 SM dan menyebar mulai dari benua Afrika hingga Asia. Tapi alat membatik yang bernama canting hanya dimiliki oleh Indonesia yang diperkirakan ditemukan pada abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur.

Keberadaan batik sendiri mulai mengalami masa keemasannya pada awal abad ke-19 dan sempat memukau para pengunjung dan seniman di pameran Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900.

Hingga kini batik semakin beragam corak dan asal daerah pembuatannya. Jika pada awalnya batik hanya berasal dari daerah Jawa Tengah dan sekitarnya, kini batik Indonesia sudah merambah hingga Aceh, Kalimantan, dan Papua. Selain diproduksi secara tradisional di daerah-daerah tertentu, batik pun kini sudah merambah dunia industri.

Berikut adalah merek batik yang cukup populer di Indonesia beserta profil dan sejarah singkatnya:

1. Danar Hadi

Tahun 1967 merupakan awal dari perusahaan ini berdiri. Didirikan oleh pasangan suami istri H. Santoesa Dullah dan Hj. Danarsih Santosa, nama Danar Hadi merupakan gabungan dari penggalan nama ibu Hj. Danarsih dan sang ayah yang bernama H. Hadipriyono. Sementara itu kakek buyut H. Santoesa Dullah adalah alm. H. Bakri yang merupakan salah satu tokoh Serikat Dagang Islam yang aktif di jaman pergerakan kemerdekaan nasional.

Sejak tahun 1975 Batik Danar Hadi melebarkan sayapnya ke Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Tidak hanya pabrik tenun, pemintalan, dan jaringan distribusi yang melebar, Batik Danar Hadi pun merambah furnitur, museum batik dan tempat pernikahan, serta restoran. Danar Hadi yang awalnya usaha wiraswasta di Solo kini telah menjadi aset nasional yang melayani kalangan menengah ke atas.

2. Batik Keris

Usaha yang awalnya merupakan batik rumahan ini, kini telah berkembang menjadi perusahaan terbatas dengan pabrik garmen yang besar dan toko-toko yang tersebar di Nusantara. Bertujuan untuk melestarikan budaya Indonesia melalui pakaian (batik, ikat, lurik, dsb.) dan kerajinan, perusahaan ini ingin menjadi pusat kerajinan nusantara. Batik Keris dimulai pada tahun 1947, ketika pasangan suami istri alm. Kasom Tjokrosaputro dan Ibu Gaitini mulai berjualan batik dan belajar membuat batik dari orang tua sang suami. Kemudian mereka membuka toko batik bernama “Keris” di Jln. Kom. Yos Sudarso di Solo. Usaha mereka pun terus berkembang, mereka lalu mendirikan pabrik tepat di belakang toko. Pada tahun 1970 mereka mendirikan pabrik printing dan lalu menjual produknya di pusat perbelanjaan yang sangat terkenal saat itu, Sarinah, di tahun 1972. Perusahaan batik Keris terus berkembang hingga saat ini melayani pelanggan menengah ke atas.

3. Batik Semar

Batik Senar didirikan pada tahun 1947 di Solo oleh alm. Somadi Kasigit dengan nama Batik Bodronoyo. Bodronoyo sendiri merupakan nama lain dari Semar, tokoh panutan dalam pewayangan. Setahun kemudian Somadi menikahi Elia dan mereka pun kompak menjalankan usaha keluarga tersebut. Batik Semar pada awalnya memproduksi batik tulis saja. Tapi karena penjualan batik tulis terbatas hanya pada kalangan menengah ke atas karena harganya yang tinggi, Batik Semar memproduksi juga batik cap dan batik kombinasi sehingga batik dapat dibeli oleh kalangan menengah ke bawah. Sejalan dengan perkembangan jaman, pada tahun 1972 muncul teknik pembatikan baru yaitu printing atau sablon. Untuk menjawab tantangan jaman, Batik Semar pun memperbanyak mode, corak, dan warna.

4. Irwan Tirta

Alm. Irwan Tirta adalah seorang perancang busana yang sangat dikenal melalui rancangan-rancangannya yang menggunakan unsur batik. Setamat menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Irwan melanjutkan pendidikan S2 nya di Yale University, Amerika Serikat dan London School of Economics. Ketertarikannya pada batik dimulai ketika Irwan menerima dana hibah dari John D. Rockefeller untuk mempelajari tarian keraton Kasunanan Surakarta. Sejak saat itulah Irwan mendedikasikan hidupnya untuk menciptakan karya-karya batik yang tinggi hingga batik rancangannya dipakai oleh para pemimpin dunia pada kesempatan pertemuan APEC di Indonesia pada tahun 1994. Pada tahun 2003 PT Irwan Tirta didirikan dengan ITPC (Irwan Tirta Private Collection) yang menjadi merek dagangnya. Rancangan Irwan kebanyakan adalah busana eksklusif yang berharga lebih dari 5 juta rupiah per potong.

5. Parang Kencana

Parang Kencana didirikan pada tahun 1992 oleh Mariana Sutandi. Setamat kuliah hukum di Universitas Parahyangan, Mariana bergabung di perusahaan milik suaminya di bidang logam. Karena gairahnya tinggi di bidang bisnis batik, dirinya lantas memimpin perusahaan batik ternama dari tahun 1972 hingga 1993. Merasa sudah kenyang banyak memakan asam garam di dunia bisnis batik, Mariana pun lalu membuka Parang Kencana dengan modal tabungan dan membuka gerai di garasi rumahnya sendiri di kawasan Simpruk, Jakarta Selatan. Bermodal kenalan yang luas karena sosialisasinya yang tinggi di organisasi semenjak jaman SMP, Mariana pun akhirnya berhasil memasukan Parang Kencana ke mal yang cukup prestisius di jaman itu yaitu Pasaraya, dan membuka butik di Terminal D Bandara Sukarno-Hatta. Hasratnya di dunia bisnis dan cintanya pada batik ternyata telah membawa Parang Kencana berkembang cukup pesat. Parang Kencana telah membuka 30 gerai, mempekerjakan 400 perajin batik yang tersebar di Pekalongan, Cirebon, dan Jakarta, 7 desainer busana, 5 desainer batik, dan 70 karyawan.

6. Wirokuto Batik

Wirokuto Batik didirikan oleh M. Romi Oktabirawa, generasi keempat dari perajin batik di sebuah kota pesisir di Jawa Tengah yang merupakan lulusan ilmu syari’ah di Universitas Al-Azhar Mesir. Bermodal 6 juta rupiah, tahun 1996 Romi mendirikan merek batik Haji Putera yang membuat kemeja sutra berukuran besar untuk kalangan menengah ke atas. Seiring berjalannya waktu, mereknya pun banyak dikenal orang. Pertemuannya dengan salah satu desainer terkenal, yaitu Prayudi, membawanya ke babak baru yaitu buruh makloon. Merasa terkungkung walau modal dan marketing terselamatkan, akhirnya Romi mendirikan Wirokuto Batik yang mempunyai arti batik karya orang kota, disinilah dia mendesain batiknya sendiri. Rajin mengikuti pameran adalah salah satu kunci merek ini dikenal orang dan masuk ke kalangan menengah ke atas.

7. Alleira Batik

Didirikan tahun 2005 dengan nama Allure yang berasal dari bahasa Inggris yaitu “alluring” yang berarti menarik atau memikat hati, merek ini kemudian berubah menjadi Alleira untuk kepentingan memasuki pasar internasional. Lisa Kurniawaty Mihardja merupakan pendiri merek ini. Bersama dengan Anita Asmaya Vanin, seorang desainer, dan rekan bisnis lainnya, garasi rumahnya menjadi workshop jahit. Berawal dari sembunyi-sembunyi dari suaminya, wanita rumahan ini pun akhirnya menjadi pebisnis batik dengan pelanggan dari kalangan menengah ke atas. Lisa menjalin kerja sama dengan Annisa Pohan, seorang figur terkenal, untuk memasarkan merek ini. Alleira kini telah memiliki delapan butik di mal-mal terkenal di Jakarta, Medan, Makasar, Singapura, dan Kuala Lumpur.

8. Kencana Ungu

Kencana Ungu merupakan toko batik yang berpusat di Tanah Abang, Jakarta Pusat, yang didirikan oleh Hartono Sumarsono, pengusaha dan kolektor batik pertama di Indonesia. Tidak hanya toko batik, Hartono pun memproduksi tekstil dan pakaian dengan label Kencana Ungu. Belakangan, di tahun 2010, Hartono juga menghasilkan kain yang diberi nama Batik Citra Lawas. Hartono Sumarsono sudah mengenal batik ketika dia duduk di bangku SMA, ketika dia mulai membantu pamannya berjualan batik di Tanah Abang. Hartono pun belakangan telah menerbitkan beberapa judul buku tentang sejarah batik di Indonesia. Harga Kencana Ungu bervariasi, mulai dari 45 ribu ke atas. Banyak orang memilih Kencana Ungu karena harganya yang murah, bahannya yang adem terutama baju tidur dan dasternya.

9. Bateeq

Bateeq merupakan merek di bawah bendera PT Efrata Retailindo dengan Michelle Tjokrosaputro sebagai President Director-nya. Michelle bercita-cita ingin membuat Bateeq sebesar Zara. Produk batik yang ditawarkan berupa kemeja, busana wanita, baju muslim, hingga t-shirt dengan berbagai bahan seperti sutera, katun, ATMB, dan cap yang juga dipadukan dengan bahan lain seperti jeans, kaos, stretch, dan sifon. Michelle merupakan putri dari Handiman Tjokrosaputro pemilik PT Dan Liris, dan cucu dari Kasom Tjokrosaputro pemilik PT Batik Keris yang terkenal. Setelah ayahnya wafat, Michelle mau tidak mau harus mengurus dan membangkitkan PT Dan Liris yang saat itu tengah kolaps menuju bangkrut. Bulatnya tekad dan bakti kepada ayah, membuat Michelle mampu membawa PT Dan Liris dari kebangkrutan. Kini Bateeq telah mempunyai 25 jaringan toko dan siap merentangkan sayapnya lebih lebar lagi.

10. Galeri Batik Jawa

Galeri Batik Jawa telah membuka gerai di lima kota besar yaitu Jakarta, Yogyakarta, Bekasi, Semarang, dan Bandung. Mayasari Sekarlaranti atau yang akrab dipanggil Nita, yang telah mendirikan usaha batik dengan pewarna alami ini. Batik ini sering disebut juga batik indigo karena memakai pewarna dari tumbuhan bernama Indigofera tinctoria atau yang lazim disebut nila. Indigo menimbulkan warna biru, sedangkan untuk warna lain Nita menggunakan bahan alami lain seperti kulit batang mahoni untuk mendapat warna coklat. Galeri batik sendiri telah dikelolanya sejak tahun 2005. Sehelai kain batik tulis indigo dijual seharga 350 ribu rupiah hingga 1,5 juta rupiah. Harga yang sama juga diberlakukan untuk baju yang sudah jadi.

Itulah sekilas profil dan sejarah dari 10 merek batik populer di Indonesia. Semoga kisah mereka dapat menjadi inspirasi bagi kita semua. Jangan pernah takut beda dan jangan pernah menyerah, selalu bangkit dan tetap berusaha akan apa yang telah menjadi mimpi dan hasrat kita, apalagi jika mimpi tersebut untuk memajukan dan melestarikan budaya serta tradisi kita sendiri.

Komentar

Komentar