Home Indonesian Way Indonesia, Lumbung Pangan Dunia!

Indonesia, Lumbung Pangan Dunia!

348
Padi Hibrida. Foto slidesharecdn.

Indonesia, Lumbung Pangan Dunia

Oleh : Marzuki Usman

Pada suatu pertemuan penulis dengan aktivis LSM – WARSI yang bergerak dibidang penyelamatan lingkungan, dan usaha-usaha untuk mengayakan rakyat kecil di Provinsi Jambi, saudara Rahmat, yang kebetulan sama-sama mau naik pesawat Garuda ke Jambi. Beliau ini bercerita, bahwa dia baru saja datang dari menghadiri seminar tentang, Budi Daya Bambu, dan Menfaatnya Bagi Usaha-usaha Untuk Mengayakan Rakyat, yang diadakan di kampus Universitas Gajah Mada di Yogyakarta.

Saudara Rahmat berujar, “Baru saya bisa mengerti kenapa dua setengah tahun yang lalu, Pak Marzuki Usman telah bercerita tentang, Budi Daya Bambu dan Manfaatnya. Pada waktu itu saya kurang paham, dan belum mengerti betapa besarnya membudi dayakan bambu bagi kehidupan ekonomi bangsa Indonesia”. Pada seminar itu, kata Rahmat melanjutkan, bahwa telah diuraikan secara rinci, bagaimana caranya untuk membudi dayakan pohon bambu dan apa-apa faedahnya.

Ternyata pohon-pohon bambu di Indonesia, berumpun dan merambat ke mana-mana. Di China dan Jepang, dan juga di Korea, pohon bambunya tumbuh, satu persatu, perpohon. Pepohonan bambu itu dijelaskan juga bahwa, dibawahnya tumbuh secara alami umbi gadung yang hidup dengan subur tanpa harus diberikan pupuk. Bambu dan gadung ini hidup secara sembiose mutualistis. Dan, dicelah-celah pohon bambu itu hidup pula ular phyton, yang merupakan makanan kesukaan orang China.

Sejauh pengetahuan penulis, umbi gadung itu, setiap tiga tahun, umbinya akan menjadi seberat tiga puluh kilo gram. Dan, kalau diambil seberat dua puluh kilo gram, maka umbi yang tinggal sepuluh kilo gram itu, pada tahun ketiga umbi itu menjadi tiga puluh kilo gram lagi. Diketahui pula, bahwa setiap satu hektar hutan bambu, bisa di budi dayakan 10.000 umbi gadung.

Apa artinya? Kalau setiap 1 hektar hutan bambu itu pada tahun ketiga, diambil atau dipanen pada setiap umbi gadung sebanyak 20 kilo gram, berarti akan dapat dipanen sebanyak 20 kg x 10.000 = 200 ton umbi gadung mentah. Kemudian diproses menjadi tepung, dan anggaplah rendemennya sebesar 20 persen, maka per hektar hutan bambu akan dihasilkan tepung gadung sebanyak 40 ton. Dan, tepung gadung bisa dibuat menjadi : roti gadung, nasi gadung, apam gadung, pancake gadung, dan sebagainya.

Dari percobaan (exercise) ini, dapat diketahui, apakah satu hektar hutan bambu yang dibawahnya tumbuh umbi gadung akan dapat dihasilkan sebanyak 40 ton tepung gadung. Apabila di Indonesia ini, misalnya dapat dibudidayakan umbi gadung pada hutan bambu seluas 10 juta hektar, maka hal ini berarti akan diperoleh hasil tepung gadung setiap tahunnya sebanyak 10 juta x 40 ton sama dengan 400 juta ton, atau sama dengan 400 miliar kilo gram tepung gadung. Selanjutnya, katakanlah penduduk dunia sebanyak 5 miliar orang, maka setiap orangnya akan kebagian 400 miliar kilo gram tepung gadung dibagi 5 miliar, sama dengan 80 kg pertahun tepung gadung untuk setiap orang penghuni dunia.

Hitungan ini baru mempertimbangkan bahwa, pada hutan bambu itu baru yang dipanenkan adalah umbi gadung. Pada hal bisa juga panen rebung (bambu muda), dan panen ular phyton, dan juga panen trenggiling. Disamping itu, hutan-hutan bambu itu juga akan menghasilkan O2 yang diperlukan untuk bernafas. Berapa besarnya O2 yang dihasilkan, kalau O2 harus dibeli untuk bernafas, maka akan bertambah lagi penghasilan para petani bambu ini.

Kesimpulannya, apabila petani Indonesia mau membudidayakan pohon-pohon bambu, berarti sekaligus akan membuat Indonesia menjadi Lumbung Pangan Dunia. Semogalah begitu nanti jadinya! Amin.

image_pdfimage_print

Komentar

Komentar