Home Breaking News Idealnya Perempuan Imunisasi Sebelum Hamil

Idealnya Perempuan Imunisasi Sebelum Hamil

72
Vaksin untuk perempuan sebelum hamil.

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- “Idealnya, wanita harus menerima imunisasi versi terbaru sebelum kehamilan, dan menerima vaksin selama kehamilan”.

Belakangan ini infeksi rubella menjadi sorotan. Infeksi ini bisa menyebabkan cacat pada otak, jantung, mata dan telinga pada bayi. Imunisasi melindungi perempuan hamil dan bayi dari penyakit akibat infeksi. Beberapa penyakit infeksi dapat menyebabkan bahaya yang serius pada wanita hamil dan bayi.

Vaksin dapat melindungi dari banyak penyakit infeksi yang dapat membahayakan ibu dan bayi. Jika wanita hamil terinfeksi dengan penyakit ini, bayi dalam kandungan bisa terkena dampaknya. Anak yang baru lahir juga dapat terkena dampaknya apabila ibu mereka memiliki infeksi. Berikut ini penjelasan yang akan dipaparkana oleh Hello Sehat (hellosehat.com)

Penyakit apa saja yang bisa membahayakan bayi? Contoh infeksi membahayakan bayi meliputi:
•    Rubella – dapat menyebabkan cacat pada otak, jantung, mata, dan telinga pada bayi dan meningkatkan risiko keguguran dan stillbirth (bayi lahir mati).
•    Cacar air – dapat menyebabkan cacat pada otak, mata, kulit, dan anggota tubuh pada bayi.
•    Campak – meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, atau bayi lahir mati.
•    Gondok – meningkatkan risiko keguguran.
•    Hepatitis B – dapat menyebabkan infeksi hepatitis B akut yang bisa menurun pada bayi saat persalinan, ibu dan bayi dapat memiliki potensial sebagai “pembawa” hepatitis B (virus tidak hilang dari tubuh).
•    Influenza – meningkatkan risiko, keguguran, kelahiran prematur, atau bayi lahrir mati, dan meningkatkan risiko penyakit serius dan kematian pada ibu.
•    Batuk rejan (pertussis) – dapat menyebabkan pneumonia, kejang, encephalopathy dan kematian pada bayi.

Vaksinasi apa yang diperlukan sebelum kehamilan?
Beberapa infeksi dapat berbahaya selama kehamilan, padahal kemunculannya dapat dicegah. Inilah mengapa Anda memerlukan tes darah saat checkup sebelum kehamilan untuk mengetahui apakah Anda sudah imun (kebal) terhadap penyakit tersebut atau tidak. Jika tidak, Anda perlu menerima vaksin sebelum hamil.

Pastikan untuk menunda kehamilan selama 1 bulan setelah divaksin, karena vaksinasi ini terbuat dari virus hidup yang dapat membahayakan bayi Anda.

1. Vaksin Measles, Mumps dan Rubella (MMR);
Campak ditandai dengan demam, batuk, hidung beringus, dan diikuti dengan titik-titik ruam merah beberapa hari berikutnya. Gondok juga adalah penyakit yang menular dan dapat menyebabkan kelenjar air liur membengkak. Jika Anda terinfeksi salah satu dari penyakit ini saat sedang hamil, risiko keguguran dapat meningkat (campak juga meningkatkan kemungkinan persalinan prematur).
Virus rubella atau campak Jerman ditandai dengan gejala seperti flu dan sering diikuti dengan ruam. Rubella juga dapat berbahaya pada kehamilan. Hingga 85% bayi dari ibu yang memiliki rubella pada trimester pertama mengalami cacat lahir yang serius, seperti kehilangan pendengaran dan kecacatan intelektual.

2. Vaksin cacar;
Penyakit yang sangat menular, cacar menyebabkan demam dan ruam yang tidak nyaman dan gatal. Sekitar 2% bayi dari ibu yang mengalami cacar pada 5 bulan pertama kehamilan mengalami cacat lahir, termasuk cacat dan lumpuh pada anggota tubuh. Selain itu, wanita yang mengalami cacar air pada saat sekitar persalinan dapat menurunkan infeksi yang membahayakan nyawa bayi.
Vaksinasi yang bisa dilakukan saat hamil
Pekerjaan atau gaya hidup dapat membuat Anda lebih rentan terhadap penyakit tertentu, contohnya diabetes. Jika Anda masuk dalam kategori berikut, dokter Anda mungkin akan merekomendasi vaksinasi tambahan sebelum atau saat kehamilan.

1. Vaksin hepatitis B;
Vaksin ini aman diberikan saat Anda hamil, dan jika Anda adalah pekerja layanan kesehatan atau tinggal dengan orang yang memiliki penyakit ini, pertimbangkan vaksinasi hepatitis B. Hepatitis B adalah infeksi virus yang dapat menyebabkan radang hati, mual, lelah dan sakit kuning (pada kulit dan mata). Pada beberapa kasus, hepatitis B dapat menyebabkan penyakit hati kronis, kanker hati, dan kematian. Wanita hamil dengan hepatitis B dapat menurunkan infeksinya pada bayi saat persalinan, dan tanpa penanganan langsung, bayi memiliki risiko tinggi terhadap penyakit hati yang serius saat ia dewasa.
Semua wanita hamil direkomendasikan untuk diperiksa hepatitis B karena besar kemungkinan seseorang memiliki hepatitis B tanpa mengetahuinya.

2. Vaksin hepatitis A;
Vaksin ini melindungi dari penyakit hati yang menyebar melalui makanan atau air yang terkontaminasi. Gejala meliputi demam, lelah dan mual. Biasanya, hepatitis A tidak serius seperti hepatitis B, dan biasanya penyakit ini tidak akan mempengaruhi bayi. Pada kasus yang langka, hepatitis A dapat berkontribusi pada persalinan prematur dan infeksi pada bayi yang baru lahir. Keamanan dari vaksin ini jika dilakukan saat hamil belum diketahui, namun karena dihasilkan dari virus yang sudah mati, risiko sepertinya rendah. Jika Anda bekerja dengan virus pada laboratorium, Anda harus mendiskusikan tentang vaksinasi ini dengan dokter Anda.

3. Vaksin pneumokokus;
Jika Anda memiliki kondisi kronis, seperti diabetes atau penyakit ginjal, dokter dapat merekomendasikan vaksin pneumokokus, yang dapat melindungi dari pneumonia. Walau potensi bahayanya terhadap bayi dalam kandungan belum diketahui, para peneliti percaya bahwa vaksin ini berisiko rendah jika dilakukan saat hamil.

Jika saya alergi terhadap vaksin?
Reaksi serius terhadap vaksin biasanya langka. Namun, dokter Anda dapat merekomendasikan Anda untuk tidak melakukan beberapa vaksinasi tertentu jika Anda memiliki alergi terhadap suatu zat yang terkandung. Orang yang memiliki alergi terhadap ragi, dilarang menerima vaksin hepatitis B, orang yang memiliki alergi parah terhadap telur harus menghindari suntikan flu, dan orang dengan alergi parah terhadap gelatin atau antibiotic neomycin dilarang menerima vaksin campak, gondok, rubella atau varicella.

“Jika Anda tak dapat menerima vaksinasi tertentu, diskusikan alternatif lain untuk menghindari penyakit tersebut dengan dokter Anda”. (*)

Komentar

Komentar