Home Breaking News Hujan Mulai Turun Program Swasembada Pangan Aman

Hujan Mulai Turun Program Swasembada Pangan Aman

312
Indahnya lokasi pertanian Vietnam.

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Kementerian Pertanian (Kementan) optimis kita mampu menjaga swasembada pangan (Beras) secara berkelanjutan. Hujan mulai turun di berbagai daerah produksi memasuki musim tanam Oktober 2017-Maret 2018 (Okmar).

“Berdasarkan laporan dari sejumlah daerah, sekarang sudah memasuki musim hujan. Artinya, petani siap menyemai benih dan mengolah tanah untuk tanam padi pada musim Okmar ini,” ujar Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Kementan, Suwandi, di Jakarta, Minggu (8/10/2017).

Dilansir dari laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sejumlah provinsi mulai memasuki musim hujan di bulan Oktober-November. Misalnya, di Sumatera bagian selatan dan utara, Kalimantan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Papua, wilayah Maluku bagian Tengah, serta Sulawesi.  Bahkan menurut informasi di Cilacap curah hujan tinggi sehingga terjadi banjir di beberapa wilayah di Cilacap (Cilacap Utara dan Cilacap Tengah).

Kementan, kata Suwandi, menargetkan luas tanam padi pada musim Okmar lebih tinggi lagi dibanding periode sama tahun sebelumnya. “Sentra padi utama antara lain di Provinsi Jatim, Jabar, Jateng, Sulsel, Lampung, Sumsel, Sumut, dan lainnya,” urainya.

Sebagai informasi, luas tanam  padi pada musim Okmar 2016-2017 mencapai 9,35 juta ha. Luas tersebut, 596 ribu ha (6,8 persen) lebih tinggi dibanding periode sama tahun sebelumnya yang cuma 8,76 juta ha.

“Selanjutnya, berdasarkan data luas tanam padi Okmar 2016-2017 dan April-September (asep) 2017 surplus lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, kami yakin produksi padi 2017 jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya dan mampu menjaga swasembada secara berkelanjutan, tidak impor beras,” jelasnya memastikan.

Hingga kini stok beras di Badan Urusan Logistik (Bulog) 1,52 juta ton. Aman memenuhi kebutuhan masyarakat tujuh bulan ke depan atau April 2018. Februari – April 2018 panen raya padi, sehingga penyerapan gabah akan meningkat.

Kementan sejak Januari 2016 hingga sekarang tidak pernah mengeluarkan rekomendasi impor beras. Ketersediaan beras jauh di atas kebutuhan nasional.

“Sedàngkan kekeringan dan serangan hama (wereng) yang mengganggu produksi jauh di bawah batas toleransi sebesar 5 persen dari luas areal tanam,” papar Suwandi. (olo)

Komentar

Komentar