Home Breaking News Hipotesa Pembakaran MA Alias Joy Hingga Tewas di Bekasi

Hipotesa Pembakaran MA Alias Joy Hingga Tewas di Bekasi

129
Pengacara Rocky Nainggolan dan rekan. Foto Pemi/citraindonesia.com).

Mengenai kasus kriminal di bekasi menewaskan  MA atau Joya (30), Selasa (1/8/2017), secara komplit saya tidak tahu persis apa akar permasalahannya, bagaimana barang buktinya yang terungkap, lalu bagaimana hubungan causal antara korban dan para pelaku, dan lain-lain. Karena faktor2 itu sesungguhnya penting untuk menganalisa sebuah kasus secara komprehensif.

Tapi dari media juga saya dapat gambaran kasar tentang peristiwa terbunuhnya korban karena pengeroyokan dan tubuhnya dibakar. Tentang pembakaran itu sendiri menurut media setelah diotopsi ulang terungkap tubuh korban terbakar sampai 80%, artinya bagi kita orang awam pembakaran itu hampir pasti menyebabkan matinya korban (di samping pengeroyokan). Soal apakah korban terlebih dahulu mati lalu dibakar, atau dipukuli sampai hampir mati dan kemudian dibakar supaya mati, itu soal pembuktian hukum melalui “rumus kimia” dari ahli forensik. Demikian.

Selanjutnya mengenai pasal 170 KUHP yang diterapkan Polisi, oleh karena kekurangan data detil maka saya tidak dalam posisi “menghakimi” Polisi apakah tuntutannya itu benar atau salah. Tetapi dengan informasi yang sy baca dari beberapa media, jelas sy hanya boleh memberikan hipotesa, bukan tesis.

Berangkat dari informasi media tentang kejadian kriminal di Bekasi itu, berikut hipotesa sy :

Dalam kasus ini bisa diterapkan teori hukum pidana yang disebut “teori equivalen” yang artinya tidak perlu lagi membuat pembedaan bagi seluruh pelaku lapangan antara syarat2 untuk dapat timbulnya akibat dengan penyebab-penyebab dari suatu akibat. Menurut teori ini, setiap syarat yang memungkinkan timbulnya suatu akibat dapat dipandang sebagai penyebab-penyebab timbulnya suatu akibat. Artinya, pemukulan secara berulang-ulang dan beramai-ramai, apalagi menggunakan benda tumpul dan bahkan dengan membakar korban, sudah merupakan penyebab kematian korban tanpa perlu lagi membeda-bedakan antara yang memukul (hanya dikenakan pasal penganiayaan/Pasal 351), yang menyiramkan bensin (hanya kena pasal kekerasan mengakibatkan kematian/Pasal 170).

Tinggal Polisi melakukan pekerjaannya mengungkap mana saja pelaku yang terlibat langsung dalam detik-detik terakhir meninggalnya korban dengan orang-orang yang “hanya” menonton peristiwa kriminal itu terjadi.

Menurut hemat sy seluruh pelaku pembunuhan itu semestinya dituntut dengan Pasal 339 KUHP dengan ancaman pidana penjara seumur hidup atau selama-lamanya 20 tahun.

Alasannya:
1. Para pelaku sudah pasti menginginkan korban meninggal karena cara-cara yang dipakai adalah dengan kekerasan fisik berulang-ulang dan yang terakhir yang paling tidak manusiawi adalah dengan membakarnya;
2. Tindakan kekerasan fisik secara bersama-sama (termasuk menggunakan benda tumpul) dan selanjutnya membakar korban adalah unsur yang memberatkan dalam kejahatan pembunuhan karena tindakan-tindakan tersebut merupakan tindak pidana tersendiri yang dilanjutkan dengan perbuatan membunuh. Dalam pengertian ini, menuangkan bensin ke tubuh korban saja sudah merupakan pelanggaran, apalagi perbuatan tersebut dilanjutkan dengan membakar tubuh korban.
3. Setiap orang yang normal pasti tahu bahwa bensin pada hakekatnya sebagai bahan bakar kendaraan yang semestinya dituangkan ke dalam tangki motor/mobil, bukan dituangkan ke tubuh korban, apalagi dilanjutkan dengan tindakan memantik api sehingga tubuh korban terbakar. Maka para pelaku tersebut sewajarnya tahu, seandainya membakar tubuh korban yang sebelumnya telah dipukuli bertubi-tubi, pastilah korban semakin tidak berdaya dan dalam keadaan terakhir pasti nyawanya melayang.
4. Seandainya para pelaku tidak membakar, menurut sy Pasal 338 yaitu pembunuhan biasa yang paling tepat diterapkan.
5. Perbuatan pelaku tersebut di atas bukan pembunuhan biasa, tetapi pembunuhan dengan keadaan-keadaan yang memberatkan (dalam KUHP Belanda disebut “gequalificeeerde doodslag”), yang dalam KUHP kita diatur dalam Pasal 339, yang bunyinya :
“Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului dengan suatu tindak pidana dengan maksud untuk menyiapkan atau memudahkan pelaksanaan dari tindak pidana tersebut, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau dengan pidana penjara selama-lamanya dua puluh tahun.”

Jadi mengapa menurut sy Pasal 339 yang paling tepat adalah karena para pelaku tersebut dengan cara-cara yang dilakukannya sudah pasti menginginkan korban mati (dan itu disebut pembunuhan) dan perbuatan membakar korban merupakan keadaan yang memberatkan dan sudah merupakan tindak pidana tersendiri, di samping tindak pidana pembunuhannya.

Pasal 339 dalam KUHP kita terdapat dalam Bab khusus tentang “Kejahatan Terhadap Nyawa”, sedangkan Pasal 170 terdapat dalam Bab “Kejahatan Terhadap Ketertiban Umum”. Maka melihat modus yang dilakukan para pelaku itu, hipotesa sy dan kemungkinan besar hipotesa seluruh masyarakat adalah para pelaku memang melakukan kejahatan terhadap nyawa manusia yang ancaman pidananya jauh lebih berat, bukan sekedar kejahatan terhadap ketertiban umum.

Satu hipotesa lain yang dapat diambil dari kejadian ini : para pelaku dan mungkin saja sebagian (kecil) masyarakat di lokasi kejadian sudah apatis dan tidak menyadari (membutuhkan) arti penting negara ini (terutama aparat penegak hukum) sehingga dengan mudahnya main hakim sendiri (eigenrichting), seolah-olah dengan meninggalnya korban maka kejahatan di wilayah tersebut sudah musnah. Jelas ini persoalan yang harus bisa dijawab oleh aparat penegak hukum di wilayah lokasi kejadian, mungkin juga di seluruh wilayah Indonesia.

Sekali lagi ini adalah hipotesa sy sebagai seorang praktisi, yang pasti tesis-nya akan dihasilkan pada saat hakim mengadili perkara tersebut. Terima kasih.

Regards.
Rocky Nainggolan, Pengacara.

Komentar

Komentar