Home Breaking News Hipilindo Nilai Indonesia Belum Siap Terapkan Aquaculture

Hipilindo Nilai Indonesia Belum Siap Terapkan Aquaculture

208
Ketua Umum Himpunan Pembudidaya Ikan Laut Indonesia (Hipilindo) Effendi.

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Ketua Umum Himpunan Pembudidaya Ikan Laut Indonesia (Hipilindo) Effendi menilai, pengembangan aquaculture offshore di Indoensia belum dapat diterapkan, karena Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya- Kementerian Kelautan dan Perikanan (DJPB-KKP) sebagai fasilitator belum mampu menyiapkan bibit unggul.

“Presiden Jokowi memindaklanjuti pengembangan offshore di Indonesia. Menurut kami saat ini Indonesia belum siap, mengingat dari pihak DJPB nya sampai saat ini belum berhasil membangung fondasi dasar untuk Aquaculture yaitu bibit unggul setiap jenis komoditi ikan laut yang ingin di kembangkan di offshore,” jelas Effendi kepada citraindonesia.com, di Jakarta, Rabu (10/5/2017).

Effendi menuturkan, offshore yang dilaksakan KKP tahun ini (2017) ada 3 lokasi yang menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), yakni Sabang, Karimun Jawa, dan Pangandaran. Namun masih memakai bibit non unggul, sehingga belum dapat berkembang lebih baik.

Penggunaan bibit nonunggul itu, kata dia, akan menimbulkan biaya produksi tinggi sebab kebutuhan pakan mencapai 2 kg untuk menghasilkan berat ikan 1 kg. Sementara itu, jika menggunakan bibit unggul, feed convertion ratio-nya (FCR) hanya 1,1-1,2 alias untuk menghasilkan 1 kg ikan, hanya butuh 1,1-1,2 kg pakan.

Secara sederhana, biaya membudidayakan bibit nonunggul mencapai Rp45.000 per kg, sedangkan bibit unggul hanya Rp27.000 per kg.

Selain itu, dari sisi waktu pembudidayaan, bibit nonunggul membutuhkan lebih lama, yakni dua tahun untuk mencapai berat siap panen 2 kg per ekor. Sementara itu, pembudidayaan benih unggul hanya membutuhkan 1,25 tahun untuk mencapai berat siap panen.

“Ini menurut kami hanya untuk pencitraan produksi aja, kalau dihitung secara ekonomis untuk kemampuan persaingan pasar export, kita pasti tidak akan mampu bersaing dengan negara lain, mengingat bibit yang dipakai bukan benih unggul, sehingga kost produksi tinggi,” tuturnya.

Menurutnya, karena Indonesia saat ini belum mampu menproduksi bibit unggul, maka investor lokal tidak ada yang tertarik di usaha offshore yang di anjurkan oleh Presiden.

“Jokowi berani berani ngomong offshore, tapi kalau ngak ada bibit unggul yang ngak bisa. Dan hal ini apakah Presiden tau?” ungkapnya bertanya.

KKP tahun ini menjadikan budidaya ikan laut sebagai program unggulan perikanan budidaya. Sejalan dengan itu, kementerian itu membangun tiga KJA offshore di Sabang, Pangandaran, dan Karimunjawa, senilai Rp42,1 miliar. Sebanyak 3,6 juta ekor benih ikan kakap putih akan ditebar di tiga KJA tersebut.

KKP menargetkan produksi 2.415 ton dari ketiga Iokasi atau setara dengan Rp169,2 miliar per tahun. Barramundi menjadi komoditas yang dipilih karena memiliki potensi pasar ekspor yang luas seperti ikan kerapu yang diminati pasar luar negeri.

“Program Susi (Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti) dalam Aquaculture fondasinya belum mantap. Sebab bibit unggul kita belum mampu membuatnya. Sebab ikan yang dibudidaya di off shore hasilnya sebagai bahan baku industri. Nilai jualnya sangat bersaing. Kalau bukan bibit unggul, kita tidak akan mampu bersaing harga dari negara pesain,” tandasnya. (pemi)

Komentar

Komentar