Home Breaking News HET Beras Berlaku, Pedagang Beras : Jadi Kacau!

HET Beras Berlaku, Pedagang Beras : Jadi Kacau!

163
Para pembeli beras datang langsung ke pasar Induk Beras Cipinang dan mencoba mencium aromanya. (Foto:Badia/citraindonesia.com)

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Menjadi kacau perdagangan Beras di Pasar Induk Beras Cipinang setelah diberlakukannya Harga Eceran Tertinggi (HET) Beras ditetapkan Kementerian Perdagangan RI, baru- baru ini.

“Sekarang pemasok beras dari daerah itu jadi ngikutin harga HET jenis beras premium. Padahal jenis beras premium itu berbeda dengan beras medium. Nah, setiap jenis beras tersebut mempunyai harga masing-masing. Sekarang jadinya kita yang kesulitan untuk menentukan harga jual ke pembeli,” ungkap Rosmin, salah seorang pedagang di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, kepada citraindonesia.com, Senin (11/9/2017).

Rosmin juga mengatakan apabila harga beras yang mereka terima dari pemasok dari daerah itu sesuai dengan harga HET dan nantinya dirinya menjual di atas HET yang ditetapkan Kemendag, maka pedagang khawatir kena sanksinya.

“Sebenarnya pemasok juga berharap adanya kepastian hukum apabila Beras dibeli oleh pedagang di pasar induk, karena kan kalau dirinya menawarkan harga yang terlalu tinggi membuat orang tidak mau membeli berasnya, pedagang masih ditambah bebannya seperti uang makan dan parkir para sopir dan kenek,” terangnya.

Yang jelas dia memastikan para pedagang kebingungan dengan adanya HET beras tersebut karena harga tersebut itu untuk acuan di pasar induk atau pasar tradisional.

“Istilahnya kalau HET itu untuk harga acuan di pasar induk, lalu untuk di pasar tradisionalnya kan pedagang lain pasti mengambil keuntungan juga untuk biaya parkir, transportasi dll. Kalau mereka menjual sama dengan harga di pasar induk juga ya pedagang di pasar tradisional tidak dapat keuntungan dong?,” papar Rosmin.

Dirinya berharap agar pemerintah dapat mengevaluasi kembali peraturan tersebut supaya pemasok, pedagang di pasar induk dan pedagang tradisional mendapatkan harga jual beras yang sesuai.

“Kalau begini kan kita jadi bingung. Mau jual dengan harga berapa? Karena pemasok saja menjual ke kita dengan harga sesuai HET. Ya… semoga saja pemerintah dapat mengevaluasi kembali kebijakan tersebut,” imbuhnya.

Sebelumnya pemerintah melalui Kementerian Perdagangan mengeluarkan penetapan HET beras tersebut, yang diklaim dapat berdampak pada inflasi dan kemiskinan.

Berdasarkan perhitungan Kemendag mengenai besaran HET beras medium Rp9.838/kg dan beras premium Rp13.188/kg diperkirakan berdampak terhadap andil deflasi kelompok bahan makanan (volatile food) sebesar 0,83 persen dan penurunan kemiskinan sebesar -0,38 persen.

Kelompok beras tersebut juga dibagi 3 jenis yaitu beras medium yang memiliki spesifikasi derajat sosoh minimal 95 persen, kadar air maksimal 14 dan butir patah maksimal 25 persen, beras premium yang memiliki spesifikasi derajat sosoh minimal 95 persen, kadar air maksimal 14 persen dan butir patah maksimal 15 persen.

Jenis beras khusus yang kriterianya ditetapkanĀ  oleh Kementerian Pertanian yang termasuk beras khusus seperti Beras Thai Hom Mali, Japonica, Basmati, Ketan, Beras Organik dan Beras bersertifikat IG.

Untuk pemetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras Premium di wilayah : Jawa, Lampung dan Sumsel Rp12.800/kg, Sumatera Rp13.300/Kg, Bali dan Nusa Tenggara Barat Rp12.800/kg, Nusa Tenggara Timur Rp13.300/Kg, Sulawesi Rp12.800/kg, Kalimantan Rp13.300, Maluku Rp13.600/kg dan Papua Rp13.600/kg.

Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium di wilayah : Jawa, Lampung dan Sumsel Rp9.450/kg, Sumatera Rp9.950/Kg, Bali dan Nusa Tenggara Barat Rp9.450/kg, Nusa Tenggara Timur Rp9.950/Kg, Sulawesi Rp9.450/kg, Kalimantan Rp9.950/kg, Maluku Rp10.250/kg dan Papua Rp10.250/kg. (Ning)

Komentar

Komentar