Home Indonesian Way Harga Melebihi Nilai?

Harga Melebihi Nilai?

270
Presiden Gus Dur (kiri) dan Menteri Marzuki Usman (kanan). Foto olo.

Harga Melebihi Nilai ?

Oleh : Marzuki Usman

Didalam ilmu ekonomi ada adagium, alias dalil bahwa janganlah menetapkan harga melebihi nilai. Misalnya sesungguhnya nilai barang X ini adalah hanya sebesar Rp. 100,- perunit. Tetapi oleh si penjual ditawarkan harganya sebesar Rp. 200 perunit. Hal ini berarti telah terjadi kelebihan harga sebesar Rp. 200 dikurangi Rp. 100, yaitu sebesar Rp. 100,-. Artinya, sipembeli telah membeli 2 kali lebih mahal dari harga sebenarnya. Disebut dengan istilah over price. Akibatnya barang itu tidak banyak yang terjual. Agar barang itu menjadi banyak yang terjual, maka harganya haruslah diturunkan mendekati harga Rp. 100. Atau dengan perkataan lain harga pasar haruslah mendekati nilai atau harga sesungguhnya.

Kalau kasus seperti ini terjadi pada kurs devisa rupiah-dollar Amerika Serikat (AS). Misalnya, oleh penguasa moneter ditetapkan bahwa satu dollar AS sama dengan Rp. 5000. Pada hal harga sesungguhnya atau nilainya, satu dollar sama dengan Rp. 10.000,- Hal ini berarti harga rupiah ditetapkan sebanyak 2 kali lebih tinggi dari nilai sesungguhnya. Untuk bisa menggalakan ekspor, maka penguasa moneter menetapkan kebijakan devaluasi, yaitu dari harga satu dollar Amerika Serikat Rp. 5000,- ditetapkan menjadi satu dollar Amerika Serikat sama dengan Rp. 10.000. Akibatnya eksportir, kalau dulu dengan nilai ekspor sebesar satu dollar Amerika Serikat maka dia akan mendapat uang rupiah sebanyak Rp. 5000. Sekarang, setelah kebijakan devaluasi, maka sieksportir itu akan menikmati kenaikan penghasilannya dalam rupiah menjadi seratus persen, yaitu menjadi Rp. 10.000.

Didalam kehidupan sehari-hari seorang pejabat haruslah berhati-hati agar janganlah menetapkan harga dirinya melebihi nilainya. Misalnya sipejabat tersebut menaikan harga dirinya melalui mempersulit masalah, dan bukan mempermudah masalah. Dan dia mempraktekan prinsip Gua Dapat Apa (GDA) dan bukan Good Corporate Governance (GCG). Maka ketika sipejabat itu pensiun, maka dia akan terdevaluasi, dalam arti tidak ada lagi orang yang akan menghormati dia. Kalaupun ada yang akan mengajak berusaha, maka sipejabat itu pasti akan ditilep atau dikibuli oleh partnernya. Kalau sipejabat itu mau main golf, pastilah ia oleh eks teman-temannya ditinggalkan dan dibiarkan main golf sendiri. Dan, kalaupun dia bertemu para bekas teman-temannya, mereka pada terheran-heran, kok pejabat ini belum mati-mati juga !

Moral dari cerita ini adalah, ketika kita berkuasa, maka sebaiknya kita menetapkan harga diri kita paling tinggi sama dengan nilai kita. Lebih baik lagi, kalau harga itu ditetapkan dibawah nilai. Dan, jangan sekali-kali menetapkan harga diri melebihi nilai diri. Kalau hal ini tidak dipatuhi, maka pastilah sipejabat yang bersangkutan akan mengalami masa depan yang suram. Apa saudara mau?

 

image_pdfimage_print

Komentar

Komentar