Home Breaking News Harga Gabah Kering Panen di Jawa dibawah HPP

Harga Gabah Kering Panen di Jawa dibawah HPP

230
Tampak Mentan Amran Sulaiman (tengah) saat bersama pihak terkait Panen Raya Padi di Blora, Jateng, Selasa (24/1/2017).

SRAGEN, CITRAINDONESIA.COM- Harga jual gabah kering panen (GKP) di Jawa Tengah dan Jawa Timur anjlok di bawah harga pembelian pemerintah (HPP). Dalam sepekan terakhir, harga GKP berkisar di angka Rp3.200/KG sampai Rp3.600/KG. Bahkan, di beberapa tempat ada yang sampai di bawah Rp2.600/kg.

“Tim Upaya Khusus (Upsus) peningkatan produksi padi jagung kedelai (Pajale) melaporkan harga GKP di Sragen jatuh di bawah HPP Rp3.700/kg GKP. Harga rata-rata GKP di tingkat petani sampai dengan Rabu (8/2/2017) Rp3.400/kg. Harga selalu berubah, untuk kemarin Rabu (8/2/2017) di daerah Sragen sebelah selatan berkisar Rp3.400/KG – Rp3.600/kg,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sragen, Eka Rini, di Jawa Tengah, Jumat (10/2/2017).

Hal yang serupa juga disampaikan Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Margo Mulyo Blimbing, Sragen, Citro mengatakan, harga GKP varietas Ciherang pada Selasa (7/2/2017) anjlok sampai Rp3.200/kg dan sempat naik pada Rabu menjadi Rp3.400/kg. Adapun untuk varietas mentik, kata Citro, harga GKP masih bertahan di angka Rp3.800 – Rp4.000/kg.

Menurut Citro, rendahnya harga GKP di bawah HPP tersebut dikarenakan produksi yang melimpah lantaran tidak ada panas.

“Tapi, seharusnya di saat gabah banyak begini, harganya tetap sesuai HPP. Jangan malah diturunkan,” ujarnya.

Di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, petani juga mengeluhkan rendahnya harga gabah. Harga jual gabah tersebut tidak sebanding dengan produktivitas petani yang terus mengalami peningkatan.

“Tahun lalu dia sempat merasakan hasil penjualan GKKP mencapai Rp4.000/kg. Harapannya, pada panen raya kali dia pun bisa menjual gabah dengan harga yang sama,” salah seorang petani di Desa Penawangan, Kecamatan Penawangan, Grobogan, Mugianto (39 tahun).

Mugianto mengaku, dengan harga jual gabah hasil panen sebesar itu, petani tidak memperoleh untung. Alasannya, harga jual gabah tidak sebanding dengan biaya produksi yang telah dikeluarkannya. Mugianto memerinci, untuk biaya produksi per petak sawah dari dua petak sawah yang digarapnya mencapai Rp1,3 juta, yang meliputi ongkos tanam, pembelian benih, dan pemupukan. Adapun kedua petak sawah tersebut hanya mampu menghasilkan 1 hingga 1,2 ton gabah.

“Nah, kalau harga jual gabah hanya Rp3.000, saya cuma dapat Rp3,2 juta. Bagi kami ini rugi, ongkos untuk tenaga panen belum masuk dalam komponen produksi,” kata Migianto.

Anjloknya harga gabah di Jawa Tengah juga terpantau Perhimpunan Petani Nelayan Seluruh Indonesia (PPNSI). Menurut data PPNSI, anjloknya harga GKP memang terpantau di sejumlah wilayah di Jawa Tengah, termasuk di wilayah karesidenan Surakarta.

“Sudah dari pekan lalu terjadi di wilayah Kabupaten Sragen dan sekitarnya, harga gabah kering panen di bawah Rp3.000/kg,” kata Ketua PPNSI, Riono.

Di luar Kabupaten Sragen, lanjut Riono, persoalan yang sama dialami para petani di wilayah Solo dan Kabupaten Sukoharjo. Di beberapa wilayah daerah ini, harga GKP di tingkat petani masih berkisar Rp3.000/kg dan bahkan ada yang lebih rendah. Sejauh ini, PPNSI terus memantau perkembangan harga GKP di tingkat petani.

Sedangkan di wilayah Jawa Timur, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur Cendy Tafakkristo menyatakan bahwa harga GKP di Tuban anjlok di angka Rp2.800/kg. Bahkan, menurut informasi dari Dinas Pertanian Tuban, Bulog setempat sudah tidak bisa menampung lagi gabah produksi petani.

“Produksi petani sedang melimpah karena panen raya dan hujan yang banyak, harganya jadi turun,” kata Cendy.

Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur Bambang Heriyanto mengatakan, selain Tuban, harga gabah yang anjlok juga terjadi di Bojonegoro dan Ngawi. Harga GKP di tiga daerah itu berturut-turut Rp2.800/kg, Rp3.500/kg, dan Rp3.600/kg.

“Harga ini masih di bawah HPP karena panen raya, gabah melimpah, dan musim hujan yang panjang. Kami akan berkoordinasi dengan Bulog untuk melakukan penyerapan dengan HPP,” terang Bambang. (ning)

Komentar

Komentar