Home Breaking News Garuda Maintenance Facility Buat Hanggar Baru di Batam Senilai US$41 Juta

Garuda Maintenance Facility Buat Hanggar Baru di Batam Senilai US$41 Juta

162

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- PT Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia berencana membangun hanggar baru di kawasan Bandara Hang Nadim Batam dengan nilai investasi sekitar US$41 juta atau setara Rp548,12 miliar.

Vice President Corporate Secretary PT Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia, Arjo Widjoseno mengatakan, hanggar baru tersebut nantinya melayani kebutuhan perawatan pesawat dari maskapai asing.

“Utamanya untuk widebody . Nan ti , kapasitas hanggar akan ter – diri dari dua line widebody, di mana salah satu line bisa di gu nakan untuk maintenance dan painting,” katanya, seperti yang diberitakan bisni, di Jakarta, Rabu (22/2/2017).

Dalam pengembangan hanggar, lanjutnya, GMF akan menyewa lahan seluas 25.000 m2 milik Ba dan Pengusahaan Kawasan Perdagangan bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (BP Batam) selama 20 tahun.

Saat ini, dia menuturkan pembangunan hanggar baru dalam tahap evaluasi kelayakan bisnis. Bila tidak ada aral melintang, imbuhnya, hanggar baru itu akan dibangun pada Semester II/2017, dan mulai beroperasi pada Semester II/2018.

Di tempat yang sama, GMF juga membangun gudang logistik guna menunjang kebutuhan suku cadang perawatan pesawat. Adapun, kebutuhan lahan untuk gudang logistik tersebut mencapai sekitar 10.000 m2.

“Kami akan mengelola gudang logistik itu sebagai pusat logistik berikat. Nantinya, akan ada beberapa tenant di sana, dan tidak me nutup kemungkinan dibangun juga fasilitas-fasilitas lainnya dalam menunjang bisnis anorganik GMF,” tutur Arjo.

Untuk diketahui, luas lahan yang belum dimanfaatkan BP Batam hingga saat ini sekitras 60 hektare. Adapun, pihak swasta yang sudah lebih dulu memanfaatkan lahan BP Batam antara lain Batam Aero Technic (BAT) milik Lion Air Group.

Sejalan dengan itu, GMF juga berencana mencari mitra asing. Arjo menjekaskan saat ini GMF melakukan pembicaraan dengan sejumlah pihak terkait hanggar dan gudang logistik baru di Batam antara lain Eropa, Jepang, Korea dan Vietnam.

“Eropa bahkan sudah menginginkan untuk memindahkan pe rawatan pesawatnya di Asia. Mereka ingin mencari partner di Asia untuk mendapatkan harga manhours yang lebih efisien, ketimbang di Eropa yang sudah mahal,” ujarnya.

Arjo optimistis kapasitas pekerjaan GMF bakal jauh meningkat dengan adanya hanggar dan gudang logistik baru tersebut, sehingga target pendapatan GMF sebesar US$1 miliar pada 2020 dapat terwujud.

Sementara itu, Direktur Utama PT GMF AeroAsia Juliandra Nurtjahjo menilai area pengembangan bisnis perseroan di Batam cukup strategis karena dekat dengan Singapura yang menjadi pengumpul atau hub aviasi Asia.

Selain itu, lanjutnya, pertumbuhan bisnis dan perdagangan yang cukup pesat, serta adanya kemudahan fasilitas kepabeanan juga menjadi pertimbangan GMF untuk melakukan ekspansi bisnis di Batam.

“Kami yakin, ekspansi bisnis GMF di Batam yang memiliki potensi sangat baik ini, mampu mendorong tercapainya visi GMF pada 2020 untuk masuk dalam 10 besar perusahaan MRO dunia,” katanya.

Kepala BP Batam Hatanto Reksodiputro menuturkan kerja sama BP Batam dan GMF merupakan bagian dari upaya meningkatkan investasi di Batam, khususnya pada sektor industri teknologi tinggi.

“Kami sangat menghargai dan menyambut baik keputusan GMF untuk membangun MRO di Batam, kami optimis keberadaan GMF di Batam akan menggerakkan industri penerbangan lebih baik lagi ke depan,” tuturnya.

Hatanto optimistis beroperasinya GMF di Batam akan membuka lebih banyak lapangan kerja, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Batam. Tidak hanya itu, tegasnya, daya tarik Batam sebagai kawasan tujuan investasi juga akan bertambah. (pemi)

Komentar

Komentar