Feromon Seks Ini Anti Hama Tebu

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Badan Penitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian RI, telah melakukan penelitian dan pengembangan, uji lapangan formulasi feromon seks S. excerptalis dan C. sacchariphagus populasi Indonesia. Barang itu cocok melawan atau mengendalikan Hama Pengerek Tamanan Tebu rakyat.

‘Penelitian dilakukan di dua lokasi yaitu di PT. PG. Subang, di Desa Pasirbungur, Kabupaten Subang, Jawa Barat dan PT. Perkebunan Nusantara X, Pusat Penelitian Gula, Penataran Jengkol, Kediri, Jawa Timur,’ ungkap Kepala BB Biogen Badan Penitian dan Pengenbangan Pertanian (Balitbangtan), Mastur Kementerian Pertanian di Jakarta, Selasa (13/2/2018).

Dari hasil tersebut, BB Biogen membuat formulasi feromon sintetik untuk S. excerplahs dan C. sacchartphagus yang memiliki daya tarik lebih bagus dibandingkan betina virginnya.

Formulasi feromon seks sintetik tersebut dapat digunakan untuk pengendalian serangga hama penggrek tebu, baik sebagi alat monitoring maupun sebagai alat perangkap masal. Hal ini akan mendukung kebijaksanaan pemerintah dalam penggunaan insektisida sehingga lebih aman, tidak mencemari lingkungan dan hama terkendali.

‘Saat ini dari total luas areal perkebunan tebu nasional adalah sekitar 454 ribu hektar dan 59.18 persen adalah berstatus perkebunan rakyat dengan total produksi tebu nasional sekitar 2,5 juta ton,’ jelas Mastur.

Dari tahun ketahun terdapat fluktuasi yang cenderung menurun dalam produksi, diantaranya dikarenakan serangan hama penggerek pucuk tebu S. excerptalis yang secara signifikan mampu menurunkan hasil panen hingga 51 persen dan kerugian yang disebabkan oleh hama tebu di Indonesia ditaksir sekitar 75 persen.

Pengendalian biasanya dilakukan dengan aplikasi insektisida sistemik, pemanfaatan musuh alami dan secara fisik dengan koleksi kelompok telur. Cara pengendalian ini kurang efektif dan kurang praktis dilakukan pada ekosistim tebu. Oleh karena itu, pemanfaatan feromon seks sebagai atraktan dalam perangkap yang dapat memonitor populasi maupun pengendalian masal penggerek tebu, herpeluang menjadi teknologi pengendalian yang efektif, ramah lingkungan dan murah.

‘BB Biogen telah mengembangkan beberapa feromon seks sintetik dan telah berhasil diformulasikan dan sedang dimanfaatkan untuk pengendalian serangga hama. Teknologi ini sangat mendukung program pembangunan pertanian industrial berkelanjutan yang berbasis sumber daya lokal,’ paparnya.

Serangga hama tersebut juga diketahui memiliki senyawa kimia spesifik untuk berkomunikasi dengan pasangannya saat akan kopulasi atau kawin untuk meneruskan generasinya, yang disebut feromon seks .

‘Feromon seks dapat ditiru dan disintesa untuk dimanfaatkan dalam pengendalian serangga hama,’ imbuh Kepala BB Biogen.

Pemanfaatan feromon seks sebagai umpan dalam alat perangkap untuk monitoring dan mass trapping mulai dikembangkan, masing masing serangga hama Formulasi feromon seks masing masing serangga tersebut untuk populasi Indonesia belum dieksplorasi. (Ning)