Home Breaking News eKTP Seret Elit Negeri, Pimpinan KPK Hati-hati!

eKTP Seret Elit Negeri, Pimpinan KPK Hati-hati!

200
Ketua KPK Agus Rahadjo (tengah), Yuyuk (kanan) dan Laode M Syarif dalam konpres OTT Bupati Subang, Ojang Suhandi. Foto Badia.

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Masih saksi. Nama Setya Novanto terseret kasus korupsi proyek E-KTP, dan disebut beberapa kali pertemuan informal dengan staf di Kementerian dalam Negeri, membahas proyek tersebut. Namun Wakil Ketua KPK, Laode M. Syarief, mengaku sangat berhati- hati menangani kasus yang menyeret sejumlah elit politik itu.

“Kalau misal itu kami melakukan itu orang yang terlibat dulu, nanti akan ada kayak haji lah, kloter pertama, kloter kedua dan kloter ketiga. Tapi kan enggak boleh kita berdasarkan seperti yang disebutkan. Kita lihat mana yang paling lengkap buktinya, mana paling banyak keterangannya, banyak mengetahuinya,” ungkapnya, di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (17/3/2017).

Meski begitu, dia berjanji dalam waktu dekat pihaknya akan menetapkan status baru terhadap seseorang terkait kasus ini.

“Tapi nama orang-orang yang disebut dalam Pasal 55 diharapkan bisa diselesaikan dalam waktu yang sesuai kecepatan yang bisa kita lakukan,” jelasnya.

Sidang perdana, dibacakan jaksa KPK di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (PN Tipikor) Jakarta, Kamis (9/3/2017), 2 terdakwa, Irman dan Sugiharto, juga menerima uang.

Irman disebut mengantongi Rp2.371.250.000 dan USD 877.700 serta SGD 6 ribu, sedangkan Sugiharto mendapatkan USD 3.473.830.

Saat ini sudah 280 orang saksi dipanggil KPK sebagai saksi terkait skandal e-KTP ini.

KPK lalu menetapkan 1 orang lagi sebagai tersangka yakni eks Dirjen Dukcapil Kemendagri Irman pada 30 September 2016.

Mega korupsi ini menyeret banyak elit penguasa negeri ini yang katanya menerima aliran uang haram itu, sbb;

  1. Mantan Mendagri Gamawan Fauzi menerima USD 4,5 juta dan Rp 50 juta,
  2. Diah Anggraini sebesar USD 2,7 juta dan Rp 22,5 juta,
  3. Drajat Wisnu Setyaan menerima USD 615 ribu dan Rp25 juta.
  4. 46 orang anggota panitia lelang masing-masing 50 ribu dolar AS,
  5. Husni Fahmi  sebesar 150 ribu dolar dan Rp30 juta.
  6. Anas Urbaningrum, mantan Ketua Umum Partai Demokrat sebesar 5,5 juta dolar,
  7. Melchias Marchus Mekeng (politi Golkar) sebesar 1,4 juta dolar,
  8. Olly Dondokambey, kini Gubernur Sulut, menerima 1,2 juta dolar,
  9. Tamsil Lindrung (politisi PAN) sebesar 700 ribu dolar,
  10. Mirwan Amir (politisi Partai Demokrat) 1,2 juta dolar,
  11. Arief Wibowo sebesar 108 ribu dolar,
  12. Chaeruman Harahap (poltisi Partai Golkar) 584 ribu dolar dan Rp26 miliar,
  13. Ganjar Pranowo (politisi PDI Perjuangan), kini Gubernur Jateng sebesar 520 ribu dolar,
  14. Agun Gunandjar Sudarsa, anggota Komisi II dan Banggar DPR waktu itu sebesar 1,047 juta dolar.
  15. Mustoko Weni sebesar 408 ribu dolar,
  16. Ignatius Mulyono 258 ribu dolar,
  17. Taufik Effendi 103 ribu dolar,
  18. Teguh Djuwarno (PAN) 167 ribu dolar, Miryam S Haryani 23 ribu dolar, Rindoko, Nu’man Abdul Hakim, Abdul Malik Haramaen, Jamal Aziz, dan Jazuli Juwaini selaku Kapoksi pada Komisi II DPR masing-masing 37 ribu dolar,
  19. Markus Nari Rp 4 miliar dan 13 ribu dolar,
  20. Yasonna Laoly (PDI Perjuangan) kini Menkumham 84 ribu dolar AS,
  21. Khatibul Umam Wiranu sebesar 400 ribu dolar.
  22. M Jafar Hapsah (Partai Demokrat) 100 ribu dolar,
  23. Ade Komarudin (Partai Golkar dan mantan Ketua DPR RI), 100 ribu dolar AS,
  24. Abraham Mose, Agus Iswanto, Andra Agusalam, dan Darma Mapangara selaku direksi PT LEN Industri masing-masing Rp1 miliar.
  25. Wahyudin Bagenda selaku Direktur Utama PT LEN Industri Rp2 miliar,
  26. Marzuki Ali mantan Ketua DPR RI dari Partai Demokrat sebesar Rp20 miliar,
  27. Johanes Marliem menerima 14,880 juta dolar dan Rp25.242.546.892,30,
  28. 37 anggota Komisi II lain seluruhnya (556 ribu dolar, masing-masing mendapatkan uang 13-18 ribu dolar),
  29. Anggota tim Fatmawati yaitu Jimmy Iskandar Tedjasusila alias Bobby, Eko Purwoko, Andi Noor, Wahyu Setyo, Benny Akhir, Dudi, dan Kurniawan masing-masing menerima Rp60 juta,
  30. Manajemen konsorsium PNRI Rp137.989.835.260,
  31. Perum PNRI Rp107.710.849.102.

Sementara perusahaan yang disebut ikut menerima, sbb;

  1. PT Sandipala Artha Putra (Rp 145.851.156.022),
  2. PT Mega Lestari Unggul, holding company PT Sandipala Artha Putra (Rp 148.863.947.122),
  3. PT LEN Industri (Rp 20.925.163.862), PT Sucofindo Rp8.231.289.362
  4. PT Quadra Solution (Rp 127.320.213.798,36).

(Isr)

Komentar

Komentar