Home Indonesian Way Effisiensi dan Effektivitas

Effisiensi dan Effektivitas

185
Marzuki Usman, mantan Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi, Kabinet Reformasi Pembangunan serta Menteri Kehutanan dan Perkebunan, Kabinet Persatuan Nasional. Foto olo.

Effisiensi Dan Effektivitas

Oleh : Marzuki Usman

Alkisah, ceritanya bermula ketika penulis diberi amanah oleh Bapak Menteri Keuangan R.I, Bapak Dr. J.B. Sumarlin di bulan September 1988, sebagai Kepala Badan Pelaksana Pasar Modal (Bapepam). Penulis pada waktu itu memperoleh promosi, yakni dari pejabat eselon II, sebagai Direktur Lembaga Keuangan dan Akuntansi menjadi Kepala Bapepam, sebagai pejabat eselon 1 di Departemen Keuangan R.I.

Oleh banyak teman-teman penulis, promosi ini dikatakan bukanlah suatu promosi. Kenapa? Karena penulis pindah dari sebagai Direktur Lembaga Keuangan yang bergengsi dan flamboyant, menjadi pejabat eselon 1, Kepala Bapepam, yang lembaganya sudah bersifat hidup segan mati tidak mau!

Direktorat Lembaga Keuangan, pastilah sangat bergengsi, karena ia memberi ijin : bank-bank baru, perusahaan-perusahaan asuransi baru, perusahaan-perusahaan leasing baru, dan membina perusahaan-perusahaan lembaga keuangan lainnya, seperti perusahaan modal ventura, factoring, dan Lembaga Keuangan Bukan Bank. Sementara Bapepam, pada waktu itu hanya merupakan instansi atau jawatan pelengkap perangkat ekonomi dari suatu negara saja. Para pegawainya sudah pada lesu darah, dan sudah kurang bergairah hidupnya.

Untunglah, alhamdulillah penulis sudah berpengalaman sekali, diberi amanah untuk menghidupkan lembaga, yang sudah sekarat. Penulis berbesar hati untuk menghidupkan pasar modal Indonesia, yang pada waktu itu tidak diperhitungkan sebagai lembaga ekonomi yang diperlukan oleh negara.

Usaha pertama yang penulis lakukan ialah meningkat effisiensi dari lembaga Bapepam. Penulis tidak bisa mentolerir adanya karyawan yang cuma duduk saja, dan habis waktunya membaca cerita bersambung, dan mengisi teka-teki silang. Dalam hal ini, perlu ingin meningkatkan effisiensi dari sumber daya manusia, dan sumber kapital yang berada di Bapepam.

Penulis minta, bahwa setiap pegawai menulis laporan setiap hari, tentang apa yang dia kerjakan setiap jam, dari mulai masuk sampai dengan pulang kerja. Mereka diminta mengisinya secara jujur. Misalnya, si Ali pada jam 8.00 sampai dengan jam 16.00, baca-baca surat kabar. Sementara karyawan yang lain, lebih suka ngerumpi kesana kemari. Maka, dari hasil membaca kegiatan setiap jam dari para karyawan, maka penulis mengadakan mutasi pekerjaan diantara para karyawan. Mereka yang suka baca koran, dipindahkan ke bagian Humas dengan tugas mengumpul berita-berita tentang pasar modal. Mereka yang suka ngerumpi, dipindahkan ke bagian pelayanan keluhan pemakai jasa pasar modal, dan sebagainya.

Apa yang penulis lakukan pada waktu itu adalah berupa peningkatan effisiensi kerja karyawan Bapepam. Artinya tidak ada lagi pegawai yang menganggur, alias tidur-tiduran. Dalam bahasa ekonominya, semua sumber daya ekonomi, yaitu meliputi Sumber Daya Alam (SDA), Sumber Daya Manusia (SDM), dan barang kapital, semua terpakai dengan baik. Dalam arti tidak ada pemborosan, alias waste.

Setelah semua sumber daya ekonomi digunakan secara effisien barulah dibuat kiat-kiat untuk menaikan produk pasar modal, berupa semakin ramainya transaksi-transaksi jual beli saham di pasar modal. Dan, semakin banyaklah perusahaan-perusahaan yang menjual sahamnya di pasar modal. Dengan perkataan lain, jumlah emiten perusahaan publik semakin meningkat setiap saat. Dalam bahasa ekonomi, dengan sumber daya yang ada, yang sudah dieffisienkan, maka produksi haruslah meningkat.

Inilah yang disebut effektivitas. Menaikan produk ini perlu perbaikan teknologi. Pada waktu itu di pasar modal mulai diperkenalkan pengelolaan data-datanya dengan menggunakan komputer. Belakangan, bahkan perdagangan saham di pasar modal sudah perdagangan elektronik e-trading. Akibatnya dari perubahan teknologinya, maka effektivitas pasar modal semakin meningkat, berupa nilai perdagangan yang menaik dan bertambahnya jumlah emiten dan indek harga saham yang naik terus.

Perlu dikatakan bahwa prinsip effisien dan effektivitas ini berlaku bagi setiap pelaku ekonomi, yaitu : swasta, pemerintah, luar negeri, produsen dan konsumen. Apabila disuatu perusahaan, prinsip ini dilanggar, maka perusahaan ini akan tidak lama umurnya. Demikian juga pada unit-unit pemerintah, apabila prinsip ini dilanggar, maka semakin menderitalah rakyat di daerah itu. Dan apabila prinsip ini dilanggar oleh penguasa dari suatu negara, maka menjadi malanglah nasib negara itu, rakyatnya akan mengalami penderitaan demi penderitaan.

Semogalah Republik Indonesia kita, tidak demikianlah nasibnya.

 

Komentar

Komentar