Home Breaking News “Dibalik Sebatang Rokok Temuan Andi Amran Sulaiman Dikantong Rusman”

“Dibalik Sebatang Rokok Temuan Andi Amran Sulaiman Dikantong Rusman”

403
Mentan And Amran Sulaiman dengan akrab rangklul seorang petani Desa Wanareja Cilacap. Photo Ningsih

“Miris”. Itulah paling pantas diucapkan saat kita melihat realitas dalam kehidupan para petani kita nan miskin hidup di desa- desa nun jauh di sana! Bayangkan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kok tiba- tiba spontan merogoh kantong seorang petani Desa Wanareja Cilacap bernama Rusman. Nampaknya ada hikmah besar di balik peristiwa langka ini, barangkali ada campur tangan Tuhan.

Kita memang tidak terlalu terkejut mendengar kabar atau melihat kemisinan hingga nasib serta keseharian para petani Indonesia. Mereka dimargialkan sejak beberapa puluh tahun lalu. Saat Presiden Soeharto, petani ini dinomorsatukan. Dibentuk wadah khusus untuk sarana komunikasi tentang hal- hal berkaitan dengan pertanian. Namanya Kolom Pencapir. Tetapi itu lenyap seiring tumbangnya rezim tersebut.

Lantas muncul Presiden BJ Habibie, disusul Presiden Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono. Bahwa nasib petani kian tal jelas rimbanya. Bisa dikatakan petani menjadi obyekan. Ada program cetak sawah di Meng BUMN, jadi lahan korupsi. Ada subsidi dari APBN untuk gas, diekspor murah ke China, ada subsidi Pupuk- tapi pupuknya langka di tenah petani. Parahnya beredar pula banyak Pupuk Palsu. Entah politik apa itu namanya. Yang jelas kelangkaan komoditas pangan- suburkan bisnis rente dan importasi oleh para elit negeri ini. Barang impor in juga masuk secara tidak sopan, saat petani kita tengah panen sehingga produksinya murah, utang segunung kepada tengkulak. Pun tanah- tanah sawahnya atau kebun terpaksa dijual demi perut dan sekolah anak- anaknya sehingga luas sawah menciut dan berubah jadi apartemen, perhotelan, industri hingga mall. Pemerintah kala itu tak kuasa melawan pemain rente, atau sebaliknya para elit sebagai pengawasnya ikut juga jadi pemain. “Entahkan grangan itu!”

Hingga kini, mungkin masih banyak di antara kita yang merasa dalam teka-teki mengenai seperti apa readmap pemerintahan Presiden Jokowi yang sesungguhnya untuk menjadikan lahan pertanian negeri ini sehingga bisa meniru sistem pertanian dilakukan Thailand, Vietnam, Cancun Brazil, India, New Zealand, Termasuk China yang sukses menegkspor Gandum, Jagung, Kedelai, Barley, Kaoliang (sorgum), Millet yang perkebunannya di kawasan Utara dan Tengah. Ekpornya ke berbagai negara termasuk Eropa dan ke Amerika Serikat.

Parameter atau roadmap itu kalau memang sudah ada harus diekspos secara luar kepada publik, termasuk kapan sebaiknya musim tanam, kapan musim panen, kapan musim hujan, kapan kemarau atau juga el nino serta la nina. Lantas dengan itu, maka para pengambil kebijakan pusat dan daerah, menurut penulis tidak lagi gamang mengambil langkah- langkahnya. Dan pada kahirnya diharapkan tidak ada lagi kasus kelangkaan Cabai Rawit Merah, daging Sapi, Gula Pasir, Beras, Bawang Merah dan lain sebagainya. Juga jangan lupa harus jelas collateral management pergudanagnya atau gudang pendinginnya (cool storage) serta sistem transportasinya. Intinya bila ini sektor pertanian kita ini berjalan baik seperti di dunia internasional, harga komoditas di tingkat petani bersaing, di tingkat grosir OK, konsumen happy, maka index persepsi publik pasti meningkat positif dan inflasi terpelihara. Itu indahnya bila dalam kerja di lapangan menjadi satu-kesatuan. Tidak ego sektoral seperti diinginkan Presiden Jokowi!

Nah bila konsep dibuat terintergrsi bisa kita lakukan ke depan, maka kita- kita yang hidup di kota- kota besar, pasti akan iri melihat kemakmuran para petani itu. Jadi para elit dan pengambil kebijakan negeri tercinta ini atau siapapun orangnya tidak lagi berani mengabaikan atau ngobyekin keluh-kesah Pak Tani. Dan suara petani  tidak lagi jadi pepesn kosong alias kemudian dijadikan obyekan berjamaah para pengambil kebijakan seperti dilakukan selama ini yang berakhir di gedung KPK dan Pengadilan Tpikor, sebut saja soal bibit dan importasi komoditas produksi petani lainnya termasuk Daging Sapi, hingga masalah petani transmigrasi yang selama ini hanya bersyjud di depan mafia elit, tengkulak dan pelaku ijon serta permainan patgulipat para oknum kartel tengik!

Nah itu makanya tadi, dalam benak penulis, barang kali Tuhan, Allah Subhana Huwataala, tengah mengutus Andi Amran Sulaiman untuk menemukan langsung Sebatang Rokok dari kantong Rusman itu. Temuan itu sekalgus sebagai bukti betapa penderitaan petani itu belum bisa kita hapus, meski upaya secara pelan- pelan telah dilakukan kabinet ini.

Penulis yakin, bahwa Amran akan menceritakan temuannya itu kepada Presiden Jokowi di Istana Negara. Dia sekalian akan meminta petunjuk lagu bagaimana caranya menaikkan paling tidak 2 atau 3 kali pilat kinerja sektor pertanian binaannya ke depan. Bahkan penulis yakin sekali, andai Andi Amran meminta tambahan anggaran untuk percepata perbangunan sara- prasarana pertanian, seperti embung, irigasi, trasportasi atau apapunlah, Jokowi rasanya fine- fine tuh. Karenan pertanian ini adalah content Nawa Cita-nya. Jadi dengan begitu, petani bukan lagi obyekan pihak tertentu, melaikan dimanusiakan. Bahwa rakyat dan petani pemegang hak Konstitusi negara ini. Pemerintah hanya pelaksana mandat, dan MPR RI si pemberi mandat!

Menarik memang. Bahwa saat menemukan sebatang rokok itu di kantong Rusman, lantas Amran pun spontan menukarnya dengan barang sangat dibutuhkan Rusman tersebut. Yakni 1 unit traktor tangan atau hand tractor.

Tentu pemberian Amran itu membuat Rusman tersanjung dan hatinya berbunga- bunga dan ingin segera turun ke sawah, dalam arti ini jadi sejarah baru baginya. Sebagai petani desa, dia juga pasti tak pernah berpikir akan bertemu seorang Menteri Andi Amran Sulaiman. Apalagi dapat alsintan hand tractor itu.

Lantas untuk lebih menghibur petani itu, Mentan menghimbau kepada Rusman dan para petani perokok lainnya supaya biaya rokok itu diganti saja jadi asuransi untuk para petani.

“Dua bungkus rokok dapat diganti untuk asuransi apabila ada musibah terjadi. Saya sudah anggarkan 1 juta hektar di seluruh Indonesia. Karna kami ingin melindungi petani,” begitu penegasan Mentan di hadapan para petani desa itu.

(Oloan Mulia Siregar)

Komentar

Komentar