Home Breaking News CORE Indonesia Catat Tiga Poin Penting Kedatangan Raja Salman!

CORE Indonesia Catat Tiga Poin Penting Kedatangan Raja Salman!

178
Presiden Jokowi mengantarkan Raja Arab Saudi Salman Bin Abdul Aziz Al-Saud, saat tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (1/3/2017) siang. Foto: Rahmat)

Kedatangan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz beserta rombongan ke Indonesia pada 1- 9 Maret 2017 merupakan kesempatan emas bagi pemerintah Indonesia dan Arab Saudi untuk menguatkan hubungan kedua negara termasuk di berbagai bidang.

Dalam bidang ekonomi, Arab Saudi memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu alternatif sumber pembiayaan investasi di sektor-sektor strategis di Indonesia. Apalagi investasi Timur Tengah yang masuk ke Indonesia masih sangat terbatas, jauh di bawah investasi negara-negara Asia Timur.

Nilai investasi asal Arab Saudi yang masuk ke Indonesia pada tahun 2016 hanya sebesar 900 ribu Dolar AS, atau hanya berada pada peringkat 57. Sementara investasi asal Singapura, Jepang dan China masing-masing mencapai 9 milyar, 5,5 milyar dan 2,75 milyar Dolar AS.

Bagi Arab Saudi, kerjasama dengan negara-negara Asia dan Indonesia merupakan langkah strategis yang dibutuhkan akibat perubahan geopolitik dan ekonomi dunia yang mempengaruhi hubungan antara Arab Saudi dengan negara-negara Barat yang selama ini sangat erat. Manakala hubungan Amerika Serikat cenderung merenggang sejalan dengan
kebijakan presiden Trump, Uni Eropa juga sedang mengalami gejolak politik dan perlambatan ekonomi.

Jatuhnya harga minyak dunia yang diperkirakan akan bertahan pada level rendah pada waktu lama semakin mendorong Arab Saudi untuk mencari sumber-sumber baru pembiayaan negara. Indonesia, yang memiliki pasar yang besar dan pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi, ditambah lagi dengan kedekatan secara sejarah dan budaya, tentunya merupakan mitra yang sangat strategis bagi Arab Saudi untuk menjalin kerjasama ekonomi.

CORE Indonesia mencatat ada beberapa hal yang patut mendapatkan perhatian pemerintah Indonesia dari kunjungan resmi pemerintah Arab Saudi ini.

Pertama, pemerintah Indonesia perlu memanfaatkan kunjungan ini untuk menarik investasi sebesar-besarnya dari Arab Saudi. Sejalan dengan Visi 2030 Arab Saudi yang ingin mendongkrak pendapatan di luar sektor minyak, pendapatan dari ekspansi investasi ke negara lain menjadi salah satu perhatian negara itu. Di Indonesia, investasi Arab Saudi pada periode
2013-2016 masih relatif kecil, dan lebih banyak pada sektor tersier terutama sektor perdagangan dan reparasi dan sektor properti khususnya hotel dan restoran. Karenanya, pemerintah perlu mendorong peningkatan investasi negara itu ke sektor-sektor yang paling dibutuhkan negara ini seperti pengembangan industri pengolahan minyak mentah dan industri petrokimia. Sebagai negara yang memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia dan diperkirakan pada tahun 2050 akan masuk empat besar raksasa ekonomi dunia, Indonesia sebenarnya  memiliki daya tarik investasi yang sangat besar dan prospektif bagi negara-negara Arab Saudi. Selain di bidang energi, investasi di sektor pariwisata dan keuangan (khususnya pariwisata dan keuangan syariah) harus menjadi bagian penting yang ditawarkan oleh pemerintah Indonesia.

Kedua, kerjasama perdagangan perlu diperluas untuk mendorong ekspor Indonesia ke Arab Saudi, baik ekspor produk-produk yang selama ini sudah menjadi andalan, maupun produkproduk potensial yang penetrasinya ke pasar Arab Saudi masih terbatas. Selama ini pangsa ekspor Indonesia di Arab Saudi masih sangat kecil dibandingkan dengan pangsa ekspor negara-negara Asia lainnya, seperti China, Korea Selatan, Thailand dan Vietnam. Dari total impor Arab Saudi tahun 2015, pangsa pasar ekspor Indonesia hanya sebesar (1,5%), sementara Thailand (2,3%) dan Vietnam (1,8%). Ekspor terbesar Indonesia ke Arab Saudi selama ini adalah kendaraan bermotor, kayu olahan, minyak sawit dan produk ikan. Selain mendorong peningkatan ekspor produk-produk tersebut, Indonesia juga perlu mendorong ekspor produk-produk lain yang penetrasi pasarnya di Arab Saudi masih kecil, seperti alas kaki, tekstil dan pakaian jadi. Pasar untuk produk-produk ini di Arab Saudi berpotensi mengalami peningkatan pesat sejalan dengan rencana pemerintah Arab Saudi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan umroh yang saat ini hanya 8 juta menjadi 30 juta per tahun.

Ketiga, Indonesia juga perlu memperbaiki perjanjian perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Arab Saudi. Pada tahun 2016, jumlah TKI yang bekerja di Arab Saudi sebanyak 13.500 orang, atau 6 persen dari total TKI di luar negeri. Jumlah TKI di Arab Saudi adalah yang terbesar kelima setelah Malaysia, Taiwan, Singapura, dan Hongkong. Meskipun demikian, total nilai remitansi yang dibawa TKI dari Arab Saudi justeru yang paling besar, yakni 2,775 juta Dolar AS atau 31 persen dari total penerimaan remitansi Indonesia. Hanya saja, perlindungan TKI yang bekerja di negara itu sampai saat ini masih sangat lemah. Karena itu, pemerintah perlu memperkuat payung hukum perlindungan terhadap TKI di negara itu di antaranya dengan membuat Memorandum of Understanding (MoU) antara kedua negara yang dapat meningkatkan perlindungan terhadap TKI.

Disarikan Mohammad Faisal, Ph.D
Direktur Eksekutif Core Indonesia, 1 Maret 2017.

Komentar

Komentar