Home Breaking News Cabai Rawit Rp163,000/Kg, Pedagang Boyolali : “Satgas Pangan Kesini Dong”

Cabai Rawit Rp163,000/Kg, Pedagang Boyolali : “Satgas Pangan Kesini Dong”

157
Cabai Rawit Merah super produksi para petani Boyolali, Jateng. (Photo Olo/citraindonesia.com).

BOYOLALI, CITRAINDONESIA.COM- Cuaca panas ekstrim masih menghantui perasaan warga Boyolali, Jateng. Maklum, sarana penghijauan di pusat kota tetangga Kotamadya Solo, kampung halaman Presiden Joko Widodo sudah dikerahkan menyiram rerumputan di halaman perkantoran dan pinggu jalan raya setiap hari. Tapi rumput hijau itu tetap menguning, dan bahkan halam rumah dan pinggir jalan berdebu, lebih parah ketika angin berhembus.

“Jangankan di dalam kota, lahan pertanian kita sudah banyak yang rusak, buahnya, pohonnya dan daunnya kering- mati malahan. Belum tahu sampai kapan datangnya hujan. Dampaknya harga- harga komoditas pangan, sayuran dan terutama Cabai Rawit Merah naiknya sangat tinggi karena pasokan berkurang. Harga ini gak waras. Untuk beli 1KG Cabai Rawit Merah, dapatnya 10 Kg beras,” ujar Suratno, pedagang Sate, yang mengaku membeli Cabai itu dari langganannya dari pasar Sambi, Boyolali, saat curhat dengan citraindonesia.com, Jumat (4/8/2017).

“Harga Cabai Rawit Merah di kota ini sudah tembus Rp163.000/Kg,” jelasnya menggerutu karena omzet penjualan makin menipis.

Memang pedagang cabai langganan kami itu bilangnya : “Kalau gak laku di pasar, dia suruh istrinya mengecer ke warung- warung. Tapi yang suka beli biasanya paing banyak rumah makan Sate Kambing. Itu juga paling yang rawit hijau buat dilalap. Kalau rawit merah aga susah lakunya karena terlalu pedas,” kata Suratno menirukan si pedang sayuran tersebut.

Ayah tiga anak ini juga merasa heran. “Kok harga – harga sejak Lebaran itu naiknya tinggi banget. Memang kata para pengumpul karena pasokan berkurang, ya itu tadi hasil panen juga merosot. Tapi kok pemerintah diam saja ya. Sebaiknya dicek sama Satgas Pangan,  ke sini dong. Ya alasan cuaca ekstrim jadi permainan,” imbuhnya.

Senada dengan Ny Kartini, yang justru mempertanyakan kenapa pemerintah tidak mencari solusinya. “Ya solusi apa dong. Masa harga cabai semahal ini. Hujan juga gak ada. Bikin hujan buatan kali ya…bagus pak. Tapi daerah Cepogo katanya kemaren hujannya deras loh. Itu kan tempat perjebunan sayur- mayur. Ya petaninya seneng lah mas,” ujarnya pedagang nasi di sekitar Hotel Aston, Solo.

Sudah ceritakan hal ini kepada Bupati atas Dinasperindag bu? “Ah mas- mas. Wong mereka wes ngerti kok yo…. (sudah pada tahu),” imbuhnya.

Sebelumnya harga tertinggi Cabai Rawit Merah di sini berapa Bu? “Puasa itu sampe Lebaran Rp70,000-an. Tapi habis lebaran naiknya tinggi sampai sekarang,” jelasnya.

Sekedar tahu, sempat terdengar informasi bahwa Tim Kementerian Perdagangan bersama Bupati Boyolali, Seno Samodro, Kamis (3/8/2017), akan blusukan ke pasar- pasar tradisonal Boyolali, untuk meninjau penyebab tren harga- harga komoditas penyedap makan itu melonjak. Karena memang saat itu pagelaran Produk Unggulan Daerah (PPUD) ke-12, oleh Kementerian Perdagangan RI. Namun entah sebabnya acara kunjungan pasar itu batal. (olo)

Komentar

Komentar