Home Breaking News “Cabai Rawit Ini Bisa Assist Bagi Jokowi Nendang Menteri Loh”

“Cabai Rawit Ini Bisa Assist Bagi Jokowi Nendang Menteri Loh”

185
Cabai Rawit dan Petai tengah dilirik para penggmarnya.

Cabai Rawit sudah tembus Rp200,000/Kg. “Hati- hati…jangan sampai si WakWau teriak”. Namun kendati demikian, Presiden Jokowi, tampaknya masih adem ayem.

Tapi ingat. Adem ayam ini tak berarti membiarkan. Jangan- jangan doi lagi mikir nih. “Siapa mau gue tendang nih”. Ya ibarat doi ketika nendang “bola” ketika melaunching Piala Presiden 2017 beberapa waktu lalu!

Ingat kawan! Berbuatlah sebelum cabai ini jadi assist bagi Kepala Negara untuk menendang Anda dari lapangan Kabinet Kerja. Sebelumnya beliau sudah meminta jajaran, mulai dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Mendag Enggartiasto Lukita hingga aparat Pemda untuk secara bersama- sama menstabilkan harga komoditas penyedap rasa makan masyarakat itu.

Bayangkan! Kalau rakyat yang hidup di negara yang katanya “tanah sorga- tongkat kayu dan batu jadi tanaman” ini jadi puasa cabai gara- gara harga selangit, apa kata dunia! Apa si amang di hutan sana nggak pada teriak geli sembari garuk- garuk kepalanya?

Sebab perintah Kepala Negara itu hingga kini belum mendapatkan jawaban konkrit loh. Buktinya harga cabai ini bukan cuma rasanya yang semakin pedas, tapi perasaan dan kantong rakyat juga ikut-ikutan pedas. Ibaratnya tangan rakyat pada lecet karena terus- menerus merogoh kantong, padahal isinya sudah ludes, sementara kontrakan rumah belum kebayar.

Dan sejujurnya. Bahwa lonjakan harga cabai ini rasanya juga semakin tak wajar. Patut diduga ada pihak- pihak yang barangkali orang politikus sering bilang- mengail dalam air keruh. Maka itu, aparat harus melihat amsalah cabai rawit merah ini secara konfrehensif, mulai dari hulu hingga hilir. Apa kendalanya? Apa penyebab kelangkaannya. Apa benar karena cuara ekstrim, atau transportasi tak lancar, atau ada kartel? Nah kalau alasan suaca ekstri, kan hujan gak merata juga, ada yang memang musim hujan, ada juga yang tidak. Ya tak?

Bayangkan betapa beratnya beban konsumen akhir- akhir ini. Bila harga sekarang di pasar atau tingkat konsumen antara 180- 200,000/Kg. Apakah ini yang namanya negara agraris? Parahnya, bakarnya di pasar beredar, bahwa cabai impor sudah masuk ke pasar. Bila itu benar- kenapa harga cabai rawit masih semahal ini?

Secara tataran keekonomisan, harga cabai ini tak sepadan dengan harga Beras umum konsumsi rakyat. Beras yang bahan pokok paling primer ini harganya hanya di kisaran Rp10- 11,000/Kg. Maka tak salah bila nanti cabai ini “biang kerok” melonjaknya angka inflasi kita! Dan dikhawatirkan kenaikan harga cabai ini mengerek harga komoditi lainnya!

Maka itu, patut kita duga ada yang salah dalam kebijakan menanam cabai ini, apakah kesalahan itu dari sisi musim tanamnya yang serampangan alias tak memperhitungkan kapan masa musim hujan dan musim panas.

Padahal pakbro? Si WakWau saja hapal betul bahwa cabai ini paling anti hujan. Jadi sejatinya pemerintah harus memberikan pendampingan kepada para petani agar setiap kali menanam bibit komoditi ini, harus pada saat yang tepat. Sekali gus juga diberikan bibit unggul kepada mereka sehingga kita- kita dan rakyat tidak melulu teriak- teriak masalah harga cabai ini.

Realnya, harga cabai rawit merah mengalami lonjakan dalam beberapa bulan terakhir ini. Bahkan di wilayah Kalimantan sana, harga komoditas ini menembus angka Rp200 ribu per kg, meski di sebagian daerah Jawa Barat dan Sumatera maih di kisaran Rp180,000. Tapi ini tetap saja bukan harga wajar,. Biasanya Cabai ini hanya antara Rp25- 35,000/Kg.

Diakui juga oleh Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Tradisional Abudullah Mansuri. “Ini pertama kali terjadi,” ujarnya belum lama ini.

Pertanyaannya adalah “apa yang akan dilakukan Pemerintahan Presiden Jokowi- JK ke depan mengatasi masalah ini. Nendang bola atau ikut pause makan cabai?”

redaksi

Komentar

Komentar