Search
Wednesday 17 December 2014
  • :
  • :

BK Batubara Memberatkan

Angkutan Tambang Batubara

Angkutan Tambang Batubara

CitraIndonesia.com: Pengusaha tambang menilai rencana penerapan bea keluar (BK)  batubara itu sangat memberatkan.

Terlebih ada perbedaan besarnya pajak antara pemegang kontrak karya pengusaha pertambangan batubara (PKP2B) dengan perusahaan pemegang ijin pertambangan.

Seperti royalti pertambangan PKP2B 13,5% dari jumlah penjualan, sedangkan untuk IUP (Izin Usaha Pertambangan) produksi dan operasi hanya sekitar 6%.

Hal itu dikatakan Ketua Presidium Masyarakat Pertambangan Indonesia Herman Afif Kusumo, Jum’at (8/7/2012) di Menara Global Jakarta.

“Sebenarnya pengenaan bea keluar batubara tidak ada dasarnya, kecuali jika pengusaha mendapat keuntungan lebih dari batas kewajaran,” tandasnya.

Untuk itu tataniaga batubara harus di perketat sejak pengajuan rencana produksi sampai ekspor, karena produksi ekspor batubara tidak terkendali berdampak buruk bagi lingkungan, meskipun cadangannya besar.

Herman juga menambahkan: “Jika pemerintah ingin memperoleh kenaikan dari industry batubara, sebaiknya pemerintah menaikkan royalti kepada pemegang IUP dari 6% jadi 13,5%, atau disamakan dengan perusahaan PKp2B” tambahnya.

Dengan demikian lanjutnya menjadi ada perlakuan yang adil antara pemegang IUP dengan PKP2B.

Akan tetapi Herman menganjurkan batubara dengan kalori rendah dianjurkan untuk tidak diekspor. Karena bisa digunakan untuk pembangkit mulut tambang dan sesuai dengan permintaan PLN. (rapi)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *