Home Breaking News ASEAN-Korea : RI Dorong Pemberantasan IUU Fishing

ASEAN-Korea : RI Dorong Pemberantasan IUU Fishing

234
Petugas PSDKP dan Bakamla RI saat mengamankan 4 Kapal Pencuri Ikan Asal Malaysia dan Vietnam di Laut Natuna.

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Perikanan dan konservasi laut merupakan bagian yang tidak terpisah dari kerja sama maritim. Upaya pembarantasan Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing merupakan salah satu perhatian utama Indonesia dan ASEAN.

“Indonesia mengajak Republik Korea (ROK) untuk turut mendukung penguatan kerja sama maritim dan pemberantasan IUU Fishing di kawasan melalui antara lain Expanded ASEAN Maritime Forum,” ujar Benny YP Siahaan, Direktur Kerja Sama Eksternal ASEAN , Kemlu RI, Ketua Delegasi RI/Acting Ketua SOM ASEAN-Indonesia pada Pertemuan ke-21 ASEAN-ROK Dialogue di Siem Reap, Kamboja 22-23 Juni 2017 usai mengikuti agenda tersebut kemarin.

Dia menyambut baik rencana disahkannya prakarsa Indonesia mengenai ASEAN Regional Forum (ARF) Statement on Cooperation to Prevent, Deter, and Eliminate IUU Fishing pada Pertemuan tingkat Menteri ARF bulan Agustus 2017.

Kerja sama ASEAN-ROK yang telah berjalan baik hingga saat ini, harus saling bersinergi dan melengkapi kerja sama dalam berbagai mekanisme ASEAN seperti ASEAN Plus Three (APT), East Asia Summit (EAS) dan ARF.

Untuk itu, dia mendorong seluruh negara anggota ASEAN dan ROK untuk dapat mengimplementasikan secara efektif, konkret dan bermanfaat berbagai kesepakatan penting dan strategis yang ada, termasuk dalam bidang maritim, khususnya EAS Statement on Enhancing Regional Maritime Cooperation yang merupakan prakarsa Indonesia.

Menurutnya, Indonesia akan mengimplementasikan EAS Statement ini melalui penyelenggaraan EAS Conference on Marine Plastic Debris pada tanggal 6-7 September 2017 di Bali.

“Melalui konferensi ini negara anggota ASEAN dan mitra wicara ASEAN dapat membentuk kerja sama nyata untuk menyelesaikan masalah sampah plastik laut,” jelasnya.

Pertemuan ini merupakan pertemuan tahunan ASEAN-ROK pada tingkat pejabat tinggi/Senior Officials’ (SOM). Pertemuan dipimpin bersama oleh H.E. Kan Pharidh, Ketua SOM ASEAN-Kamboja/Under-Secretary of State Kemlu Kamboja, dan H.E. Lee Jeong Kyu, Ketua SOM ROK/Deputy Minister for Political Affairs Kemlu ROK.

Pada kesempatan ini, Indonesia menjadi lead discussant dalam pembahasan 2 (dua) mata agenda yakni kerja sama maritim, perikanan, dan konservasi laut serta kerja sama kebudayaan dan people-to-people contacts.

“Indonesia juga menekankan pentingnya upaya peningkatan kerja sama people-to-people contacts melalui berbagai program kepemudaan, pendidikan dan pertukaran beasiswa di negara anggota ASEAN dan ROK,” jelasnya.

Momentum tahun 2017 sebagai ASEAN-ROK Cultural Exchange Year, perlu dimanfaatkan dalam mendorong pertukaran kebudayaan dan seni. Wujud nyata kerja sama ini adalah pendirian ASEAN Culture House (ACH) di Busan, Korea Selatan.

ACH merupakan Rumah Budaya ASEAN pertama di negara mitra wicara ASEAN dan akan diresmikan oleh Menteri Luar Negeri negara anggota ASEAN dan ROK pada tanggal 1 September 2017 dan diharapkan dapat berperan lebih dalam mempromosikan kebudayaan ASEAN di Korea Selatan.

Disamping mengkaji ulang kerja sama kemitraan ASEAN-ROK di bidang ekonomi dan sosial-budaya yang telah berjalan selama ini, pertemuan juga membahas beberapa isu lainnya yang menjadi kepentingan bersama, antara lain arsitektur kawasan, situasi ekonomi dan keuangan global; perkembangan di Timur Tengah dan ISIS; Semenanjung Korea; Laut China Selatan; serta kejahatan lintas negara.

Secara khusus, ROK menyampaikan penjelasan mengenai perkembangan terakhir di Semenanjung Korea. ROK juga menekankan bahwa permasalahan nuklir Korea Utara secara keseluruhan masih merupakan suatu keprihatinan bersama.

Dalam hal ini, ROK berharap ASEAN dapat terus memberikan dukungan dengan menyampaikan pesan yang jelas dan konsisten kepada Korea Utara guna mendorong proses penyelesaian isu Semenanjung Korea.

Sementara terkait krisis Marawi di Filipina, ROK menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden tersebut yang menelan korban sipil. ROK juga menyambut baik inisiatif Indonesia, Filipina, dan Malaysia dalam mengatasi hal ini, termasuk pertemuan trilateral ketiga negara tersebut pada bulan Oktober mendatang di Jakarta.

Pertemuan ke-21 ASEAN-ROK Dialogue kali ini merupakan pertemuan pertama H.E. Khan Pharidh sebagai Ketua ASEAN-Kamboja dan H.E. Lee Jeong Kyu sebagai Ketua SOM ROK yang baru. Delegasi RI pada Pertemuan ke-21 ASEAN-ROK Dialogue ini dipimpin oleh Direktur Kerja Sama Eksternal ASEAN selaku Acting Ketua SOM ASEAN-Indonesia beserta pejabat/staf dari Direktorat Kerja Sama Eksternal ASEAN dan PTRI ASEAN.

Kerja sama kemitraan ASEAN-ROK dibentuk pada tahun 1989 dan terus dikembangkan baik melalui ASEAN-ROK Summit, Ministerial Meeting, dan SOM, maupun melalui ASEAN-led mechanisms lainnya seperti APT, EAS, ARF, serta ASEAN Defence Ministers Meeting Plus (ADMM Plus).

Kemitraan ASEAN-ROK semakin diperkuat dengan peningkatan level kerja sama kemitraan dari comprehensive menjadi strategic partnership serta diadopsinya Joint Declaration on ASEAN-ROK Strategic Partnership for Peace and Prosperity pada KTT ke-13 ASEAN-ROK tanggal 29 Oktober 2010 di Hanoi.

“Selanjutnya untuk mengimplementasikan kerja sama yang konkret dan bermanfaat, KTT ke-17 ASEAN-ROK di Kuala Lumpur, tanggal 22 November 2015, telah mengesahkan ASEAN-ROK Plan of Action to Implement the Joint Declaration on Strategic Partnership for Peace and Prosperity periode 2016-2020,” paparnya.

(Dit. Kerja Sama Eksternal ASEAN/ling)

Komentar

Komentar