Home Breaking News 71 Juta Korban, Aktivis : Obat Hepatitis C Harus Terdaftar di BPOM

71 Juta Korban, Aktivis : Obat Hepatitis C Harus Terdaftar di BPOM

146
Hepatitis C

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM-  Virus Hepatitis C telah menjadi salah satu penyebab utama penyakit hati kronik di seluruh dunia. Badan Kesehatan Dunia memperkirakan ada 71 juta orang di dunia yang terinfeksi Hepatitis C kronis. dan 10 juta orang di antaranya tinggal di wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia.

“Virus Hepatitis menyebabkan lebih dari 1 juta kematian pada tahun 2015. Angka ini serupa dengan kematian yang disebabkan oleh tuberkulosis (TB) dan lebih tinggi dari kematian terkait HIV. Namun, jumlah kematian terkait virus Hepatitis meningkat dari waktu ke waktu sementara kematian terkait TB dan HIV menurun,” ujar Edo Agustian, Koordinator Nasional Persaudaraan Korban Napza Indonesia, dalam siaran persnya kepada citraindonesia.com, malam ini, Kamis (27/7/2017).

Sedangkan di Indonesia sendiri kata dia, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 prevalensi orang yang terinfeksi hepatitis C 2,5% atau sekitar 5 juta orang. Berdasarkan data tersebut di atas sudah selayaknya permasalahan terkait Hepatitis C menjadi perhatian pemerintah dan juga Indonesia merupakan negara yang ikut menjadi bagian dalam penyusunan rencana aksi dan strategi badan kesehatan dunia wilayah Asia Tenggara (SEARO) yang untuk mengeliminasi hepatitis C di tahun 2030.

Dalam beberapa dekade terakhir, untuk pengobatan penyakit Hepatitis C, Indonesia menggunakan kombinasi obat gabungan interferon dengan ribavirin yang dipakai selama 48 minggu. Sayangnya, kombinasi menimbulkan efek samping yang berat seperti depresi, anemia, kelelahan, demam, sakit kepala, dan nyeri otot dan juga kombinasi kedua jenis obat tersebut memiliki tingkat kesembuhan yang hanya sekitar 45%.

Dia menjelaskan bahwa saat ini sudah ada obat dari golongan Direct Acting Antiviral (DAA) dengan tingkat kesembuhan yang lebih tinggi dengan persentase mencapai 95% untuk orang dengan infeksi hepatitis C, dan memiliki lebih sedikit efek samping dibandingkan dengan pengobatan berbasis interferon. Sayangnya akses untuk tes, diagnosis dan pengobatan  di Indonesia masih rendah apabila dibandingkan dengan negara-negara di Asia lainnya.

Pengobatan dengan DAA memiliki tingkat kesembuhan yang tinggi, tidak semua DAA bisa digunakan untuk semua genotipe (jenis virus Hepatitis C). Ada 6 genotipe virus Hepatitis C yaitu genotipe 1 sampai genotipe 6. Obat yang tersedia di Indonesia hanya Sofosbuvir dan Simeprevir yang hanya bisa digunakan untuk genotipe 1 dan genotipe 4.

“Saat ini beberapa perusahaan telah mendaftarkan obat-obatan antivirus seperti Daclatasvir dan Velpatasvir yang bisa digunakan untuk semua jenis atau genotipe virus sehingga memudahkan pasien untuk mengakses pengobatan dan juga dapat megurangi beban biaya tes genotipe yang harganya berkisar antara 3,6 – 5 juta rupiah. Namun, sampai saat ini Badan POM belum menyetujui obat-obatan tersebut walaupun obat-obatan yang menyelamatkan nyawa ini telah disetujui dalam pedoman pengobatan Hepatitis C Nasional dan Global,” jelasnya.

Sementara menurut Doddy Parlinggoman, Program Manager Jaringan Indonesia Positif : “Obat Hepatitis C yang ada saat ini tidak bisa digunakan untuk orang dengan koinfeksi HIV karena memiliki interaksi antar obat dengan obat anti HIV. Kami sangat mengharapkan adanya obat yang juga bisa digunakan oleh orang dengan HIV yang memiliki koinfeksi dengan Hepatitis C seperti Daclatasvir dan/atau Velpatasvir.”

Sedangkan komunitas paling terdampak dari infeksi virus Hepatitis C berharap Pemerintah khususnya Badan POM segera mengeluarkan izin untuk obat-obatan baru ini yang lebih efektif untuk semua kelompok pasien.

“Kita tidak dapat terus kehilangan nyawa karena penyakit ini,” timpal Aditya Wardhana, Direktur dari Indonesian AIDS Coalition. (*/oca)

Komentar

Komentar