Home Breaking News 13 Industri Software dan Konten Unjuk Kemampuan di Jerman

13 Industri Software dan Konten Unjuk Kemampuan di Jerman

4051
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Suryawirawan didampingi Direktur Industri Elektronika dan Telematika Ditjen ILMATE Kemenperin Achmad Rodjih Almanshoer, Deputi Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) Hari Santoso Sungkari berfoto bersama dengan para peserta pameran CeBIT 2017 dalam Press Conference Pameran CeBIT 2017 di Kementerian Perindustrian, Jakarta 14 Maret 2017.

JAKARTA, CITRAINDONESIA.COM- Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) memfasilitasi sebanyak 13 industri perangkat lunak (software) dan konten dalam negeri untuk tampil di pameran internasional Centrum for Boroautomation, Informationstechnologie und Telekommunikation (CeBIT) 2017 di Hannover, Jerman.

“CeBIT merupakan pameran terbesar di dunia bidang informasi teknologi dan solusi telekomunikasi maupun perkantoran, yang menjadi barometer kemajuan era digital dan ajang pertarungan inovasi,” kata Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE), I Gusti Putu Suryawirawan di Jakarta, Selasa (14/3/2017).

Ke-13 peserta Indonesia yang terlibat, yakni PT. Sydeco, PT. Solusi 247, PT. Data Aksara Matra, PT. Andaru Sakra Karsa (Cybermantra), PT. Tata Sarana Mandiri, Icon +, Agate Studio, Indigo Creative Nation, PT. Jojonomic Indonesia, PT. Digi Pedia Indonesia, PT. Orlantsoft Data System, PT. Aero Terra Indonesia, dan PT. Mitra Konsultansi Indonesia. Mereka terpilih melalui tahap seleksi “Open Call for CeBIT 2017” sejak 6 Februari lalu.

Pameran yang diselenggarakan oleh Deutsche Messe AG setiap tahun ini kerap dihadiri kalangan industri, pengusaha grosir dan ritel, pelaku perbankan, sektor jasa, instansi pemerintah, serta para pengguna teknologi digital. Kegiatan ini akan berlangsung pada tanggal 20-24 Maret 2017 dan ditargetkan diikuti sekitar 3.000 peserta dari 70 negara dan 200.000 pengunjung dari 100 negara.

Putu menyampaikan, Kemenperin telah memfasilitasi keikutsertaan di ajang CeBIT sejak tahun 2012. “Kami selalu membawa produk baru dari berbagai industri software lokal ke ajang CeBIT tiap tahun untuk mendorong partnership yang potensial dengan pelaku bisnis lainnya,” ujarnya.

Salah satu produk unggulan yang dibawa ke CeBIT adalah smartcard produksi PT. Data Aksara Matra dengan software 100% TKDN namun bisa dipakai di platform internasional. Dari keikutsertaan di CeBIT sebelumnya, telah terdapat perusahaan Indonesia yang mendapat proyek kerja sama dengan pihak luar negeri dalam bidang augmented reality, atau teknologi yang dapat menambahkan benda maya ke dalam proyeksi lingkungan nyata.

Menurutnya, industri elektronika dan telematika nasional, terutama yang menghasilkan software, konten dan game telah mampu bersaing dengan produk luar negeri.

“Tidak hanya yang sudah mapan, para startup industri ini juga makin tumbuh dan berkembang di Indonesia. Kebanyakan mereka yang menggeluti dunia ini adalah generasi muda sehingga bisa mendapat kesempatan menimba pengalaman di CeBIT,” tuturnya.

Putu optimistis, pengembangan industri software dan konten di Tanah Air masih prospektif karena pasarnya cukup besar.

“Ini yang harus kita manfaatkan. Kami juga akan melakukan kebijakan dalam pengamanan pasar dalam negeri, antara lain melalui penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan penerbitan aturan tingkat komponen dalam negeri (TKDN),” sebutnya.

Putu pun menekankan, pelaku industri perlu menjalin kerja sama dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam pelaksanaan pendidikan vokasi. “Hal ini merupakan arahan dari Bapak Presiden Jokowi agar SMK bisa link and match dengan industri sehingga lulusan SMK nantinya bisa langsung kerja sesuai kebutuhan industri,” jelasnya.

Deputi Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) Hari Santosa Sungkari juga menyampaikan harapan akan naiknya kontribusi ekspor dari ekonomi kreatif, salah satunya melalui CeBIT 2017.

“Di 2019, kita menargetkan kontribusi ekonomi kreatif bisa meningkat dalam tiga hal, yakni PDB sebesar 12%, serapan tenaga kerja sebesar 13% dan ekspor 10%,” paparnya.

Ekonomi kreatif sendiri memiliki 5 value chains, yaitu kreasi, produksi, distribusi, konsumsi dan konservasi. Keikutsertaan Indonesia dalam CeBIT tidak hanya untuk menyasar pasar Jerman saja, tetapi agar produk Indonesia bisa masuk ke jalur distribusi global dan berkolaborasi dengan perusahaan besar dunia.

“Dari pameran ini juga diharapkan ada Foreign Direct Investment (FDI) yang masuk dan membiayai produk-produk Indonesia,” ujar Hari. Selanjutnya, para peserta dari Indonesia, papar Hari, akan mengikuti business meeting pada 21 Maret 2017 yang merupakan ajang matchmaking antara calon buyer dan investor. (pemi)

Komentar

Komentar